Bacatrend, Surabaya – Di tengah dominasi ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart yang menjamur di hampir setiap sudut kota, warung Madura muncul sebagai kekuatan mikro yang tak bisa diabaikan. Buka 24 jam tanpa jeda, fleksibel dalam pembayaran, dan ramah terhadap pelanggan, warung-warung ini menjadi pesaing tangguh di kawasan permukiman padat dan kampung-kampung kota.

Meski disebut “tradisional”, pola usaha warung Madura sejatinya memiliki sistem tersendiri. Banyak di antaranya dijalankan oleh keluarga dalam satu jaringan komunitas, dengan rantai pasok internal yang efisien. Barang-barang kebutuhan pokok diperoleh dari grosir besar, bahkan beberapa sudah memiliki gudang logistik sendiri di daerah pinggiran Surabaya, Gresik, hingga Sidoarjo.

Tak seperti ritel modern yang tutup pukul 22.00, warung Madura beroperasi 24 jam penuh, menjadi tumpuan masyarakat saat membutuhkan kebutuhan mendadak.

“Kalau tengah malam butuh bensin, rokok, atau sabun, ya ke warung Madura. Mereka selalu buka,” kata Andi, warga Tambak Wedi, Surabaya.









Salah satu kekuatan utama warung Madura adalah hubungan sosial yang dekat dengan pelanggan. Pembeli bisa berhutang, minta dibulatkan harga, bahkan kadang memesan barang tanpa harus datang langsung.

Selain itu, sistem kerja warung Madura sangat efisien. Modal operasional relatif kecil, biaya listrik minim, dan tidak ada kewajiban administratif seperti pajak besar atau franchise fee seperti ritel modern. Mereka juga tidak bergantung pada promosi digital atau program cashback — cukup dengan keramahan dan kecepatan layanan.

“Kami tidak bisa bersaing dengan promo, tapi pelanggan percaya karena kami buka kapan saja,” ujar Hadi, pemilik warung Madura di kawasan Tandes, Surabaya.

Namun, kehadiran Indomaret dan Alfamart di area permukiman turut menggerus omzet sebagian warung Madura. Dengan sistem logistik besar, harga barang di ritel modern sering kali lebih stabil, bahkan lebih murah untuk produk tertentu seperti mie instan, minyak goreng, atau susu. Ritel modern juga menawarkan kenyamanan — ruang ber-AC, display produk rapi, dan sistem pembayaran digital.

Selain itu, banyak pelanggan generasi muda kini lebih memilih belanja di tempat yang bisa menggunakan e-wallet, cashback, atau promo QRIS.

“Anak muda sekarang lebih suka ke Indomaret karena bisa pakai OVO atau DANA. Sementara kami masih tunai semua,” keluh Fauzan, pedagang di kawasan Benowo.

Meski begitu, warung Madura mulai beradaptasi. Beberapa sudah menerima pembayaran QRIS, bekerja sama dengan bank daerah, bahkan menjual produk digital seperti pulsa dan token listrik. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa warung tradisional juga mampu bertransformasi jika diberi dukungan dan pelatihan.

Menurut pengamat ekonomi ritel Bhima Yudhistira, model bisnis warung Madura justru bisa menjadi contoh ekonomi mikro berbasis komunitas. “Mereka efisien, mandiri, dan punya daya tahan tinggi. Kalau diberi akses digital dan pembiayaan, warung Madura bisa menjadi alternatif distribusi ekonomi rakyat yang kuat,” ujarnya.

Pertarungan antara warung Madura dan ritel modern sejatinya bukan sekadar persaingan, melainkan ujian keseimbangan ekosistem ekonomi rakyat. Di satu sisi, ritel modern menawarkan efisiensi dan keteraturan; di sisi lain, warung Madura menghadirkan kehangatan dan solidaritas sosial.

Ke depan, banyak pihak berharap pemerintah daerah dan asosiasi perdagangan bisa mendorong kemitraan antara keduanya. Misalnya, ritel modern mengambil pasokan produk lokal dari warung atau grosir Madura, atau memberikan ruang pelatihan digitalisasi bagi pedagang kecil.

Warung Madura bukan sekadar toko 24 jam di pinggir jalan — mereka simbol ketangguhan ekonomi rakyat. Dalam lanskap ritel yang semakin dikuasai jaringan besar, keberadaan mereka menjadi penyeimbang agar ekonomi mikro tetap hidup dan berdenyut hingga ke kampung-kampung.

Menko PM Muhaimin Iskandar menjadi salah satu pejabat yang secara terbuka menyoroti dampak ritel modern terhadap ekonomi rakyat. “Ketika Indomaret dan Alfamart masuk kampung, itu membunuh ekonomi rakyat kecil. Pemerintah harus menata ulang izin dan kemitraan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa solusi bukan pelarangan, melainkan penataan ulang sistem distribusi dan keseimbangan ekonomi lokal agar UMKM bisa hidup berdampingan dengan ritel besar.

Pernyataan Cak Imin membuka kembali diskusi lama soal keadilan ekonomi antara ritel besar dan pelaku usaha rakyat.

Jika pemerintah tidak segera menata ulang izin dan sistem kemitraan, maka peringatan “warung rakyat mati di kampung sendiri” bisa menjadi kenyataan.

Cak Imin menyatakan soal ekspansi ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart kembali menggugah perhatian publik. Ia menilai kehadiran dua jaringan waralaba tersebut hingga ke pelosok kampung telah menggerus ekonomi rakyat kecil.

“Kita tidak anti modernisasi. Tapi ketika Indomaret dan Alfamart masuk ke kampung-kampung, itu membunuh ekonomi rakyat kecil. Pemerintah harus hadir menata ulang,” kata kata Cak Imin saat sambutan dalam acara ‘1 Tahun Pemberdayaan Masyarakat’, di Menara Danareksa, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/2025) lalu.