Bacatrend, Surabaya — Bukan suara sirine, bukan pula gemuruh lidah api yang pertama mengejutkan warga Jl. Menur Gg IV pada Senin (7/7) dini hari, melainkan satu ranjang kasur yang tiba-tiba dilalap api dari atas.

Asal muasalnya? Api yang menyusup diam-diam ke sela-sela plafon rumah kos, rangkaian sunyi dari kobaran besar yang lebih dulu membakar gudang mebel di sebelahnya.

Kebakaran yang meluluhlantakkan gudang mebel milik Kwee Koes Aming sekitar pukul 03.21 WIB ini rupanya tidak berhenti pada puing dan asap di satu titik saja.

“Api menjalar secara tersembunyi, masuk ke plafon rumah kos milik Ibu Suhartiningsih, dan menjatuhkan bara ke kasur di salah satu kamar,” ujar salah satu petugas PMK.









Suasana mencekam itu baru diketahui setelah bara dari plafon tiba-tiba membakar ranjang, meski sang pemilik rumah tengah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Api pokok berhasil dipadamkan pada 03.52 WIB berkat gerak cepat 13 unit pemadam kebakaran dari berbagai pos. Namun kisah mengenai api yang “bersembunyi” di langit-langit rumah warga menjadi pengingat bahwa kobaran besar bisa menyisakan bara di tempat yang tak terduga—dan bahwa bahaya tak selalu datang dalam bentuk yang keras.

Gudang berukuran 10×25 meter itu sendiri memang tercatat pernah terbakar pada tahun 2020. Dan kini, di tahun 2025, musibah serupa terjadi lagi, dengan luas bangunan yang hangus setara total luas bangunan itu sendiri.

Kebakaran ini masih diselidiki penyebab pastinya. Namun satu hal yang pasti: kejadian ini menyisakan lebih dari sekadar puing. Ia meninggalkan kisah tentang bagaimana api bisa menyelinap dalam diam, menunggu waktu untuk mengungkapkan dirinya dalam letupan kecil yang nyaris terlambat disadari.