Balada Materialitas di Kota yang Tak Pernah Tidur
Bacatrend, SURABAYA – Di tengah riuhnya arus digital dan industri yang membungkam keheningan Surabaya, sebuah gelombang estetik tengah disiapkan untuk mengalir dari jantung Balai Pemuda. ARTSUBS kembali hadir, bukan sekadar pameran seni rupa—ia adalah upacara materialitas yang menggugah ingatan dan rasa, dari 2 Agustus hingga 7 September 2025.
Tahun ini, ARTSUBS mengusung tajuk “Material Ways”—sebuah elegi tentang bagaimana bahan mentah menjelma bahasa batin seniman. Dari serpihan plastik hingga limpahan cahaya digital, dari suara-suara sunyi video hingga derak algoritma, Surabaya akan menjadi altar di mana ratusan karya lintas medium bergetar bersama, seolah menyusun doa tentang masa depan kota dan kemanusiaan.

Pameran yang dikurasi oleh dua sosok pemuja detail—Nirwan Dewanto dan Asmudjo J. Irianto—menawarkan lebih dari sekadar lukisan di dinding. Ini adalah pengalaman multisensorik, medan kontemplasi kolektif yang merangkum 120 seniman dari berbagai generasi: yang muda yang haus ruang, yang tua yang mendengar bisikan zaman.
Balai Pemuda, bangunan kolonial yang kini berdetak dalam nadi masa kini, akan disulap menjadi laboratorium futuristik tempat seni berbicara bukan sebagai benda, tetapi sebagai pengalaman hidup. Sang Wali Kota dijadwalkan membuka gerbang eksibisi ini, di hadapan dua ribu jiwa yang diharapkan menyaksikan peluncuran mahakarya ini—sebuah pesta siang-malam yang menghormati kesenian sebagai denyut kota.

Apa yang dimaksud dengan “Material Ways”? Bukan hanya bahan yang membentuk, tetapi material yang memaksa kita berhenti dan bertanya: apakah benda-benda di sekitar kita benar-benar bisu?
“Seniman hari ini tidak lagi memilih medium karena keindahannya,” ujar Semi Ikra Negara, Event Director ARTSUBS, “mereka memilih karena suara yang terkandung di dalamnya—tentang limbah, tentang kenangan, tentang gejolak zaman.” Format pameran yang meramu dinamika artist fair dengan keintiman biennale membuka ruang lentur bagi karya eksperimental yang tak mudah ditundukkan oleh definisi.
Dari video eksperimental hingga augmented reality, bahkan karya berbasis kecerdasan buatan, Material Ways menjanjikan arus dialog antara buatan manusia dan simulasi mesin. Di tengah era serba-instan, ARTSUBS menyodorkan kerinduan akan sesuatu yang bisa disentuh, bisa diraba—seperti perasaan yang tak bisa diukur dengan algoritma.

Surabaya, dengan laju ekonominya yang seperti detak jantung jet tempur, membutuhkan jeda. Dan ARTSUBS adalah ruang itu—di mana superkonsumerisme ditantang oleh fragmen karya yang menyuarakan kesunyian. “Kami ingin agar pameran ini menjadi tempat belajar,” ungkap Fauzie Mustaqiem Yos dari Disbudporapar, “bukan hanya bagi seniman, tapi juga bagi warga kota yang ingin memaknai dunia secara perlahan.”
ARTSUBS tak menjual tiket, ia menjual jeda. Ia tidak menawarkan hiburan, tetapi penawar. Ketika limbah menjadi estetika, dan video menjadi nyanyian kesadaran, pameran ini menyentuh titik terdalam tentang bagaimana kita hidup bersama benda-benda yang kita ciptakan sendiri.












Tinggalkan Balasan