Bacatrend, Blitar – Tersembunyi di lereng Gunung Kawi, tepatnya di kawasan Perkebunan Kawisari, Desa Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Coban Lawean Kalisari menyuguhkan keindahan alam yang nyaris tak tersentuh. Air terjun ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pelarian sunyi bagi mereka yang ingin meresapi ketenangan dan keaslian alam.

Dengan ketinggian sekitar 50 meter dan berada di ketinggian 1.000 mdpl, Coban Lawean menghadirkan aliran air yang menyebar menyerupai tirai alami. Suara gemericik air yang jatuh dari tebing berpadu dengan semilir angin pegunungan, menciptakan simfoni alam yang menenangkan. “Tempatnya sangat bagus. Kondisinya masih alami. Segar banget,” ujar Yovrizal Azhari, salah satu pengunjung yang datang untuk berlari dan melepas penat.

Akses menuju lokasi memang menantang. Jalanan sempit, berbatu, dan menanjak hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Di beberapa titik, pengunjung bahkan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Namun, setiap langkah menuju Coban Lawean seolah dibayar lunas oleh pemandangan perkebunan kopi dan teh yang menghampar luas di sepanjang jalur3.

Menariknya, di sekitar air terjun terdapat situs budaya Ki Ageng Sampar Angin yang dikeramatkan warga. Keberadaan situs ini menambah nuansa mistis dan historis di tengah keindahan alam yang memukau. “Setelah tiba di air terjun, rasa lelah dan penat selama perjalanan seolah sirna,” ungkap Maryanto, pengunjung lain yang datang bersama komunitas sepeda gunung.









Meski belum dikelola secara resmi oleh pemerintah, Coban Lawean tetap menjadi magnet bagi pencinta alam dan petualangan. Tidak ada tiket masuk, tidak ada warung, hanya alam yang berbicara. Di waktu tertentu, bias pelangi muncul di antara curahan air, menambah pesona yang sulit dilupakan.

Coban Lawean bukan hanya tempat wisata, tapi juga ruang kontemplasi. Di sana, alam tidak sekadar dilihat—ia dirasakan, dihirup, dan didengarkan.