Bacatrend, Malang, – Sore itu, lorong asrama STIKes Kendedes Malang tak lagi dipenuhi aktivitas mahasiswa yang baru selesai mengikuti perkuliahan. Keheningan mendadak pecah oleh keributan yang berujung pada sebuah tragedi. Seorang mahasiswa asal Papua Selatan, AVC (27), meregang nyawa setelah ditikam teman sekamarnya sendiri.

Peristiwa yang terjadi pada Selasa (18/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIB itu menyisakan ironi. Dua pemuda yang sama-sama merantau ribuan kilometer dari tanah kelahiran demi mengejar cita-cita di dunia kesehatan, justru terlibat konflik yang berakhir dengan hilangnya satu nyawa.

Menurut penyelidikan polisi, perselisihan antara AVC dan SK (27) bermula dari cekcok yang kemudian berubah menjadi baku hantam di depan kamar asrama. Dalam kondisi emosi, SK masuk ke kamar, mengambil pisau kupas buah sepanjang sekitar 17 sentimeter, lalu menusukkannya satu kali ke dada kanan korban.

Tusukan tunggal itu terbukti fatal. AVC ambruk di depan kamar yang selama ini menjadi tempat mereka tinggal bersama. Nyawanya tak tertolong sebelum sempat mendapat penanganan medis.









“Korban meninggal dunia di TKP. Kejadiannya di depan kamar,” kata Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, AKP Rakhmad Aji Prabowo, Rabu (19/8/2026).

Penyidik mengungkap, pertengkaran tersebut dipicu persoalan pribadi yang telah lama membekas di hati pelaku. SK mengaku menyimpan rasa sakit hati karena korban disebut pernah menggoda kekasihnya.

“Adapun motifnya, yang bersangkutan ini sakit hati karena korban pernah menggoda pacar dari pelaku,” ujar AKP Rakhmad.

Sesaat setelah kejadian, pelaku melarikan diri. Namun pelariannya tak berlangsung lama. Tim Satreskrim Polresta Malang Kota berhasil membekuk SK di kawasan Piranha, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Kini ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Penyidik menjerat pelaku dengan Pasal 458 ayat (1) subsider Pasal 466 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Ancaman hukuman yang menantinya mencapai 15 tahun penjara.

Di balik proses hukum yang kini berjalan, tersimpan kisah pilu tentang dua anak muda dari Papua Selatan yang datang ke Malang membawa harapan yang sama: menimba ilmu dan membangun masa depan. Namun, amarah yang tak terkendali mengubah ruang asrama menjadi lokasi pembunuhan, sekaligus mengakhiri mimpi seorang mahasiswa yang tak akan pernah pulang membawa toga kelulusan.

Kini, yang tersisa hanyalah kepulangan terakhir AVC menuju kampung halamannya. Bukan sebagai lulusan yang disambut bangga oleh keluarga, melainkan dalam balutan duka yang mendalam.