Bacatrend, Lombok – Di Desa Beleke, Gerung, Lombok Barat, Nurminah dikenal sebagai perempuan pekerja keras. Setiap hari ia melayani pelanggan di warung sate di Labuapi, menyimpan harapan akan masa depan yang lebih baik bersama kekasihnya, Imam alias IH.

Namun harapan itu terhenti pada pagi 10 Agustus, ketika Nurminah meninggalkan rumah tanpa pamit. Dua minggu kemudian, harapan berubah menjadi duka: jasadnya ditemukan dalam septic tank, dicor rapi di rumah IH.

“Tanpa busana, posisi kepala menghadap ke bawah,” kata Zubaidi, Kepala Desa Perampuan, yang ikut dalam proses evakuasi. Tim harus membongkar coran setebal tiga meter, lapis demi lapis, untuk mengangkat tubuh Nurminah yang telah terkubur dalam diam.

IH, duda asal Mataram, sempat berencana menikahi Nurminah. Namun di balik rencana itu, tersimpan konflik yang berujung pada kekerasan. Ia mengaku memukul Nurminah hingga tak sadarkan diri, lalu menyembunyikan jasadnya dengan semen dan pasir.









Kini, IH menghadapi ancaman hukuman berat. Tapi bagi keluarga Nurminah, keadilan tak akan menghapus luka. Mereka kehilangan anak, saudari, dan harapan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa relasi yang tampak harmonis bisa menyimpan bahaya. Dan bahwa masyarakat harus lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan, sebelum cinta berubah menjadi tragedi.