Bacatrend, Surabaya – Tak ada luka yang lebih sunyi bagi seorang ibu selain kehilangan anak yang masih hidup, tetapi tak lagi bisa dipeluk. Setiap pagi, Agustin Arimardika hanya bisa membayangkan bagaimana putri kecilnya menjalani hari-hari tanpa dirinya.

Apakah anak itu sudah makan, sudah mandi, atau justru sedang berdiri di keramaian pasar, mengulurkan tangan kepada orang-orang yang berlalu lalang, sebagaimana dugaan yang kini ramai diperbincangkan di media sosial.

Kisah bocah perempuan berusia lima tahun asal Surabaya itu mendadak menjadi sorotan publik setelah sebuah unggahan di Instagram viral. Dalam unggahan tersebut, sang ibu menyebut putrinya dibawa oleh ayah kandungnya, tidak lagi bersekolah, dan diduga dijadikan alat untuk mengemis. Cerita itu memantik gelombang simpati sekaligus keprihatinan warganet.

Bagi Agustin, kabar yang beredar bukan sekadar unggahan yang lalu-lalang di lini masa. Di balik foto putri kecilnya, tersimpan penantian panjang yang hingga kini belum juga menemukan ujung.
Unggahan yang beredar melalui akun Instagram @ayucristin93 memperlihatkan foto sang bocah disertai keterangan yang menggambarkan keresahan seorang ibu.









“Ini anak saya, dia direbut paksa oleh bapaknya yang tidak bertanggung jawab, 5 bulan anak saya gk di skolahin, di ajak mbambung,” tulisnya.

Agustin menuturkan, rumah tangganya dengan pria yang kini membawa putri mereka telah berakhir sejak 2024. Kendati demikian, ia tidak pernah berniat memutus hubungan anaknya dengan sang ayah.

Saat mantan suaminya menghubungi dan mengaku rindu kepada putrinya, ia memilih mengesampingkan konflik pribadi demi kebahagiaan sang anak.

“Ayahnya bilang ‘aku kangen sama anakku, aku ingin ketemu, biarkan ikut aku’. Kalau masih sekolah jangan, kalau libur enggak apa,” kata Agustin.

Permintaan itu terdengar biasa. Terlebih, putrinya juga ingin bertemu ayahnya. Tanpa firasat buruk, Agustin mengantar anaknya ke rumah mantan suaminya di kawasan Tegalsari. Ia bahkan menyiapkan pakaian ganti karena mengira bocah itu hanya akan menghabiskan waktu selama akhir pekan.

“Sekalian berangkat kerja, saya siapkan baju ganti, enggak ada pikiran aneh-aneh kalau anak saya enggak dikembalikan. Niatnya hari Jumat saya antar dan Minggu jemput,” ujarnya.

Namun, akhir pekan itu tak pernah benar-benar berakhir bagi Agustin.

Ketika datang untuk menjemput putrinya, ia mengaku justru mendapat perlakuan yang membuatnya terpukul. Menurut pengakuannya, mantan suaminya meminta dirinya memenuhi keinginan pribadi sebagai syarat agar anak tersebut dipulangkan.

Permintaan itu ia tolak.
Penolakan tersebut, kata Agustin, berujung pada pengusiran. Sejak saat itu, putrinya tak lagi bisa ia bawa pulang.

“Saya enggak mau dan diusir, (katanya) ‘enggak usah dijemput, anak saya juga’. Saya bilangnya kalem, ini waktunya sekolah dan kalau libur bisa dibawa lagi,” tuturnya.

Sejak kehilangan kontak dengan putrinya, Agustin mengaku hidup dalam kegelisahan. Setiap informasi yang datang selalu ia harapkan menjadi jalan untuk kembali bertemu dengan buah hatinya.

Harapan itu kembali muncul ketika sejumlah kerabat dan tetangga mantan suaminya menghubunginya. Mereka mengaku prihatin melihat kondisi bocah tersebut.

Menurut informasi yang diterimanya, sang anak disebut jarang mandi, tidak memperoleh makan secara layak, bahkan harus menunggu belas kasihan orang lain untuk mendapatkan makanan.

Dalam unggahan yang kini viral, bocah itu juga disebut diduga diajak mengemis di pasar oleh ayah kandungnya. Dugaan tersebut hingga kini masih menunggu pendalaman oleh pihak berwenang.

“Saya dihubungi tetangga. Katanya kasihan anaknya enggak mandi, jarang makan nunggu belas kasihan orang,” ungkapnya.

Merasa keselamatan dan masa depan putrinya terancam, Agustin mengaku telah berulang kali meminta bantuan aparat kepolisian. Namun, upayanya untuk membawa pulang sang anak belum membuahkan hasil.

Kini, penanganan perkara tersebut telah melibatkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A). Agustin mengatakan pihak terkait tengah mempersiapkan penjemputan paksa terhadap anaknya dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan.

Di tengah riuhnya perhatian publik, satu hal yang paling dinanti Agustin bukanlah viralnya kisah itu, melainkan suara langkah kaki putri kecilnya kembali memasuki rumah. Baginya, pelukan sang anak jauh lebih berarti daripada ribuan komentar dan tanda suka di media sosial.