Ditelan Gelombang karena Berat 3 Kali Lipat, Kapal Tunu Pratama Tenggelam Di Selat Bali
Bacatrend, Banyuwangi – Langit di atas Selat Bali tampak biasa malam itu. Tenang. Seolah menutup mata terhadap takdir kelam yang menyambut KMP Tunu Pratama Jaya.
Di bawah bayang-bayang angin laut yang membelai lembut, kapal feri itu berangkat dari Dermaga Ketapang, membawa muatan yang lebih berat dari sekadar besi dan mesin—ia mengangkut kelalaian, abai, dan konsekuensi sistemik yang telah lama terpendam.
Dalam temuan mengejutkan, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menegaskan:
“Kapal memuat hingga 538 ton. Padahal batas aman hanya sekitar 138 ton. Itu lebih dari tiga kali lipat dari kapasitasnya.”
KMP Tunu Pratama Jaya, dengan tubuh besarnya yang kelelahan menahan beban berlebih, berjalan menuju nasibnya. Garis muat kapal—“pisang-pisang”—hanya berjarak 30 cm dari permukaan air. Sebuah pertanda bahwa laut pun tahu, malam itu akan menjadi saksi.
22.51 WIB: Kapal berangkat, angin laut menyambut. ±30 menit kemudian: Awak merasakan kemiringan aneh. Air masuk ke ruang mesin melalui pintu yang tidak tertutup rapat. Evakuasi dimulai: Pelampung dibagikan, penumpang panik. Dalam tiga menit, laut mengambil alih. Kapal tenggelam secara dramatis: miring, lalu buritan lenyap ke dasar selat.
KNKT juga menyoroti pengikatan kendaraan (lashing) yang dilakukan asal-asalan. Kapal seolah hanya “mengangkut,” tanpa peduli bagaimana muatan itu tersusun. Ditambah lemahnya manajemen anjungan (BRM), kru gagal menyuarakan bahaya yang mengintai.
“Bridge Resource Management tak berfungsi. Tidak ada proses saling koreksi,” tegas Soerjanto.
KNKT bersiap menyampaikan rekomendasi ke DPR RI, termasuk larangan keras kapal berangkat bila melebihi muatan, pengetatan verifikasi manifest, dan audit menyeluruh terhadap prosedur pengangkutan di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Satu malam, satu kapal, dan puluhan jiwa yang tertinggal di lipatan gelombang. Bukan laut yang kejam. Tapi sistem yang membiarkan beban melampaui batas logika dan nurani.











Tinggalkan Balasan