Bacatrend, Jakarta — Keluarga besar Polri dan masyarakat Indonesia berduka atas meninggalnya Meriyati Hoegeng, yang akrab disapa Eyang Meri, istri almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Eyang Meri menghembuskan napas terakhir pada Selasa siang sekitar pukul 13.25 WIB setelah dirawat intensif di RS Bhayangkara Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Eyang Meri meninggal dunia pada usia 100 tahun. Selama beberapa waktu terakhir, kondisi kesehatannya terus mendapat perhatian keluarga dan tim medis rumah sakit. Rencananya, jenazah beliau akan disemayamkan di area pemakaman Pesona Khayangan, Depok, sebagai tempat penghormatan terakhir sebelum prosesi pemakaman.

Meriyati Hoegeng lahir pada 23 Juni 1925 di Yogyakarta. Ia merupakan putri dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Sepanjang hidupnya, beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana namun berwibawa, serta selalu setia mendampingi suaminya dalam berbagai fase kehidupan.

Pasangan Meriyati dan Hoegeng menikah pada 31 Oktober 1946 dan dikaruniai tiga orang anak. Hubungan rumah tangga mereka dikenal hangat dan penuh kebersamaan, baik selama masa dinas Hoegeng di kepolisian maupun setelah beliau purnawirawan.









Selain perannya sebagai istri tokoh nasional, Eyang Meri juga aktif dalam kegiatan sosial dan budaya. Ia dikenal memiliki minat dalam seni, termasuk melukis dan menyanyi, yang sering menjadi bagian dari kegiatan komunitas di lingkungan tempat tinggalnya.

Sebelum wafat, Eyang Meri sempat merayakan ulang tahunnya yang ke-100 bersama keluarga dan tokoh masyarakat, menandai satu abad kehidupan yang penuh makna dan kenangan bagi banyak pihak.

Kepergian Meriyati Hoegeng meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, serta insan Bhayangkara. Sosok beliau dikenang sebagai figur yang memberi inspirasi tentang kesetiaan, ketulusan, dan pengabdian kepada keluarga dan bangsa.