Bacatrend, Jakarta — Pemerintah Indonesia resmi mengumumkan pembelian 42 unit jet tempur Chengdu J-10C dari Republik Rakyat Tiongkok, menandai untuk pertama kalinya Indonesia mengakuisisi pesawat tempur dari luar blok Barat. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan bahwa pembelian ini akan segera direalisasikan. “Mereka akan segera terbang di langit Jakarta,” ujarnya dalam konferensi pers di Kementerian Pertahanan.

Jet tempur Chengdu J-10C, yang dikenal sebagai Vigorous Dragon, merupakan pesawat tempur generasi 4.5 dengan teknologi radar AESA, kemampuan tempur jarak jauh, dan sistem avionik canggih. Pesawat ini telah digunakan oleh Angkatan Udara China dan beberapa negara mitra strategis Beijing.

Menurut sumber internal Kementerian Keuangan, nilai kontrak pembelian mencapai sekitar US$9 miliar atau setara Rp145 triliun. Harga per unit diperkirakan lebih ekonomis dibandingkan jet tempur buatan Barat, namun tetap kompetitif dari sisi spesifikasi.









Langkah ini sekaligus mencerminkan upaya diversifikasi mitra pertahanan Indonesia. Selama ini, Indonesia mengandalkan alutsista dari Amerika Serikat, Rusia, dan Korea Selatan. Dengan pembelian dari China, pemerintah berharap dapat memperluas kerja sama teknologi dan logistik, serta mempercepat modernisasi TNI Angkatan Udara.

Mabes TNI menegaskan bahwa pembelian ini tidak akan mengganggu hubungan militer Indonesia dengan negara-negara Barat. “Ini adalah bagian dari strategi pertahanan non-blok dan otonomi strategis Indonesia,” ujar seorang pejabat TNI AU yang enggan disebutkan namanya.

Jet-jet tempur tersebut dijadwalkan mulai dikirim secara bertahap pada awal 2026 dan akan ditempatkan di beberapa pangkalan udara strategis, termasuk di wilayah barat dan timur Indonesia.

Langkah ini menuai beragam tanggapan dari pengamat militer. Beberapa menilai keputusan ini sebagai langkah berani dan efisien, sementara yang lain menyoroti tantangan integrasi sistem dan pelatihan awak pesawat.

Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan telah melalui kajian teknis dan strategis yang matang. “Kami tidak hanya membeli pesawat, tetapi juga membangun kemampuan tempur masa depan,” tegas Menhan Sjafrie.