Bacatrend, Jakarta – Minggu malam, 6 Juli 2025—lampu-lampu jalan yang biasanya temaram kini memantul di atas permukaan air. Jalanan berubah menjadi sungai. Lobi-lobi mal menjelma seperti dermaga darurat.

Aroma lumpur basah dan rasa asin air pasang menyatu dalam udara lembap yang menggantung. Di tengah gemuruh pompa air dan sirene yang sayup terdengar, seseorang menarik gerobak berisi barang-barang rumah tangga—satu-satunya yang sempat diselamatkan dari rumah kontrakan yang hampir tenggelam.

“Air naiknya cepat sekali, seperti dikejar sesuatu,” ujar Marni, 52 tahun, warga Kampung Melayu, yang kini mengungsi di posko darurat SD Negeri 01.

Jakarta kembali terperangkap dalam siklus genangan. Dalam 24 jam terakhir, 53 RT di Jakarta Timur, Selatan, dan Barat terendam. Ketinggian air bervariasi: dari semata kaki di Sukabumi Selatan hingga setinggi atap rumah di Cawang. Sebanyak 371 jiwa harus mengungsi, sebagian besar tanpa sempat membawa pakaian ganti. Ini bukan tragedi sekali waktu, tapi semacam ritus urban yang tanpa liturgi, datang dan pergi bersama musim.









Bukan satu penyebab tunggal. Kali ini, langit murka dan sungai mendendam. Curah hujan ekstrem mengguyur wilayah Jabodetabek; bendungan Katulampa dan Depok siaga merah. Ciliwung yang menerima kiriman air dari Bogor meluap, menerjang bantaran-bantaran padat. Bersamaan dengan itu, pasang laut maksimum—didongkrak oleh fase bulan baru dan posisi bulan terdekat bumi—menyumbat muara-muara kanal, membuat Jakarta seperti dicekik dari dua arah: langit dan laut.

Tata Kota yang Gagal Menjawab Waktu
Sejumlah pompa dan tanggul memang bekerja. Tapi apakah cukup? Masalah utamanya bukan hanya soal drainase atau jumlah pompa, melainkan ruang: ruang untuk menyerap air, untuk mengalirkan, untuk memberi napas pada bumi yang terus disemen. Banyak kawasan resapan berubah jadi apartemen dan pusat perbelanjaan.

Di balik semua itu, Jakarta pelan-pelan tenggelam. Penurunan muka tanah mencapai 5–10 cm per tahun di beberapa titik—akibat ekstraksi air tanah yang berlebihan dan beban bangunan pencakar langit. Sementara itu, permukaan laut terus naik akibat perubahan iklim global. Kota ini tidak hanya melawan air, tapi juga waktu.

Bayang-Bayang Masa Silam
Banjir besar tahun 1918, 1976, 2002, 2007, 2013, dan 2020 bukan hanya angka tahun; mereka adalah babak-babak dalam narasi panjang yang tak selesai. Pada masa kolonial, Batavia diguyur banjir hingga dijuluki “Venetie van het Oosten.” Gubernur VOC dan penguasa Hindia Belanda mencoba mengatur air dengan kanal—warisan yang kini membusuk, terhalang sampah dan ambisi real estat.

Lautan di Dalam Kota
Di kawasan Pejaten Timur, seorang anak kecil bermain di pinggir air seperti sedang liburan. Tapi ini bukan danau atau pantai. Ini halaman rumahnya. Ibu anak itu, dengan tubuh basah dan mata sembab, berkata lirih, “Kami sudah biasa. Tapi tetap tidak pernah siap.”

Malam itu, Jakarta seperti kota di dalam akuarium—terbatas napas, teredam suara, tetapi semua mata menatap ke luar, berharap pagi membawa surut.