Bacatrend, Surabaya – Di bawah langit Surabaya yang mulai menggelap pada Kamis malam, sebuah kisah kecil mengguncang nurani kota. Seorang bocah perempuan berusia 10 tahun, sebut saja ZHR, ditemukan menjajakan camilan di trotoar Pandegiling saat jam menunjukkan lewat pukul 22.00 WIB.

Di tengah hiruk-pikuk sweeping jam malam yang digelar Satpol PP, langkah kecilnya terhenti. Ia bukan pelanggar hukum, melainkan potret nyata dari perjuangan hidup yang terlalu dini.

Keesokan harinya, Jumat pagi, tim dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Surabaya mengetuk pintu rumah sederhana di kawasan Putat Jaya.

Mereka datang bukan membawa sanksi, melainkan harapan. Pendampingan pun dimulai—bukan hanya untuk ZHR, tetapi juga untuk ibunya, Nofi Irawati, seorang perempuan tangguh yang membesarkan delapan anak, sebagian telah dewasa dan menjauh dari rumah, sebagian lainnya masih menggantungkan hidup padanya.









ZHR bukan anak nakal. Ia adalah anak kelas 4 SD yang menjual snack di malam hari, bukan karena kenakalan, tapi karena kebutuhan. Namun kota ini telah menetapkan batas: anak-anak tak boleh berkeliaran di luar rumah setelah pukul 10 malam. Maka, DP3A-PPKB turun tangan, bukan untuk menghukum, tapi untuk mengubah arah hidup.

Kepala DP3A-PPKB, Ida Widayati, menegaskan bahwa pendampingan ini bukan basa-basi. Ibunda ZHR diminta berhenti melibatkan anaknya dalam aktivitas ekonomi malam hari. Sebagai gantinya, pemerintah menawarkan bantuan modal agar sang ibu bisa mandiri tanpa harus mengorbankan masa kecil anaknya. RT, RW, dan Satgas lingkungan pun dilibatkan dalam pengawasan. Ini bukan sekadar intervensi, tapi gotong royong sosial demi menyelamatkan satu jiwa kecil dari kerasnya malam.

Namun, peringatan pun disampaikan dengan tegas: jika kejadian serupa terulang, negara akan mengambil alih. Bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bentuk perlindungan terakhir. Karena dalam dunia yang ideal, anak-anak seharusnya tertidur di pelukan mimpi, bukan berdiri di bawah lampu jalanan menjajakan harapan.

Lurah Putat Jaya, Indah Pusparini, turut menyuarakan komitmen kolektif. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga anak-anak seperti ZHR agar tetap berada di jalur yang aman. Sementara sang ibu, dengan suara lirih, mengaku tak tahu anaknya keluar malam itu. Ia berjanji akan lebih waspada, akan menjaga ZHR agar tak lagi menjadi bayangan kecil yang hilang di antara lampu kota.

Surabaya mungkin tak bisa menyelamatkan semua anak dari kerasnya hidup. Tapi malam itu, satu anak telah disentuh oleh tangan negara—bukan untuk dihukum, tapi untuk dipeluk. Dan itu, barangkali, adalah awal dari perubahan yang lebih besar.