Jeritan Bocah Kardus Asal Sidoarjo, Disiksa dan Dibuang Orangtua Lesbi
Bacatrend, Sidoarjo – Saat itu, MK tertidur di atas kardus. Tubuhnya kurus kering, wajahnya penuh luka, dan matanya kosong. Ia ditemukan di lorong sempit Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada pagi yang biasa, namun tak ada yang biasa dari kondisinya.
Bocah perempuan berusia tujuh tahun itu bukan sekadar anak hilang—ia adalah anak yang dibuang oleh dunia, oleh orang yang seharusnya melindunginya.
Tubuh kecil itu menyimpan cerita yang tak bisa diucapkan. Luka bakar di wajah, tulang yang patah, memar di sekujur tubuh, dan gejala malnutrisi yang parah.
MK sempat kesulitan bicara, namun dari sorot matanya, ada jeritan yang tak terdengar. Ia menyebut “Ayah Juna”, menyebut nama ibunya, menyebut Surabaya, menyebut sekolah. Polisi bergerak, menyusun potongan-potongan informasi dari anak yang nyaris tak bisa bicara.
Tiga bulan pencarian, ratusan data diverifikasi, hingga akhirnya dua pelaku ditangkap di sebuah kos di Desa Parengan Kraton, Kecamatan Krian, Sidoarjo.
Mereka adalah SNK, ibu kandung MK, dan EF alias Yusuf Arjuna, pasangan sesama jenis SNK yang mengaku sebagai “ayah tiri” korban. Mereka hidup tenang, sementara MK hidup dalam luka.
MK bukan hanya disiksa. Ia dikoyak dari dalam dan luar. Dipukul dengan kayu hingga tulangnya patah. Disiram air panas. Dibakar dengan bensin. Dipaksa makan nasi basi dan minum air keran. Ia bukan hanya kehilangan masa kecil. Ia kehilangan tubuhnya, kehilangan kepercayaan pada dunia.
EF dan SNK kini dijerat pasal berlapis, penganiayaan berat dan pelanggaran UU Perlindungan Anak. Ancaman hukuman delapan tahun penjara dan denda Rp100 juta.
Tapi apakah hukuman itu cukup untuk membayar luka yang tak bisa sembuh? Brigjen Nurul Azizah, Direktur PPA Bareskrim Polri, menyatakan tegas: “Ruang keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak.” Tapi bagi MK, keluarga adalah tempat paling berbahaya.
MK bukan hanya korban. Ia adalah cermin. Cermin dari sistem yang gagal mendeteksi kekerasan. Cermin dari masyarakat yang terlalu sibuk untuk peduli.











Tinggalkan Balasan