Ketika Cinta Minta Transfer
Bacatrend, Surabaya – Di layar ponsel, ia tampak seperti lelaki sempurna. Sopan, religius, dan perhatian.
Ia menyapa dengan kalimat-kalimat hangat setiap pagi, menanyakan kabar setiap malam, lalu perlahan mengisi ruang yang mungkin selama ini kosong dalam kehidupan korbannya. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan ancaman.
Melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih ampuh: harapan.
Namanya Haji Kamal Zaki.
Setidaknya begitu yang ia perkenalkan.
Namun di balik sosok pria yang mengaku sukses dan saleh itu, polisi menemukan kenyataan yang jauh berbeda.
Nama tersebut hanyalah identitas palsu yang digunakan seorang warga negara Nigeria bernama Pucu Kevin Prince asal Ghana dibantu Adse Vitus asal Pantai Gading, dan seorang warga Indonesia bernama Lilik Nur Hamidah untuk menjalankan bisnis paling tua di dunia digital modern: menjual cinta yang tidak pernah ada.
Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Timur mengungkap jaringan penipuan daring bermodus love scamming yang berhasil memperdaya sedikitnya 53 korban di berbagai daerah Indonesia.
Mayoritas korbannya bukan anak muda yang sedang mabuk asmara, melainkan perempuan berusia 45 hingga 60 tahun yang mungkin sudah terlalu lama hidup dalam kesunyian.
Mereka dipertemukan melalui Facebook, Instagram, TikTok, hingga WhatsApp. Dari sana percakapan dimulai.
Pelan-pelan.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
Hubungan dibangun seperti rumah yang kokoh. Ada telepon, video call, pesan singkat, hingga obrolan panjang tentang masa depan yang bahkan tidak pernah direncanakan oleh pelaku.
Cinta menjadi umpan. Kesepian menjadi pintu masuk.
Setelah korban percaya, datanglah hadiah-hadiah yang terdengar seperti dongeng. Jam tangan mewah. Laptop. Barang berharga dari luar negeri. Semua dijanjikan akan segera tiba.
Tetapi sebagaimana kisah penipuan lainnya, hadiah itu memiliki satu kesamaan: tidak pernah benar-benar ada.
Korban kemudian menerima kabar bahwa paket tertahan di bea cukai. Ada masalah administrasi. Ada biaya pengurusan. Ada pajak yang harus dibayar. Ada sejumlah uang yang harus ditransfer agar hadiah tersebut bisa sampai.
Ironisnya, barang yang dijanjikan bahkan belum pernah berangkat dari mana pun.
Dalam skenario itu, seorang perempuan Indonesia bernama Lilik Nur Hamidah memainkan peran penting. Ia berubah menjadi petugas ekspedisi dadakan. Menelepon korban. Mengirim pesan.
Meyakinkan bahwa paket mewah memang sedang dalam perjalanan.
Sebuah sandiwara yang dijalankan dengan sangat rapi.
Ketika korban mengirim uang, cinta berubah menjadi transaksi.
Ketika transfer berhasil dilakukan, kasih sayang mendadak memiliki tarif.
Polisi menyebut total uang yang berhasil dikumpulkan jaringan ini mencapai sekitar Rp1,1 miliar. Ada korban yang kehilangan Rp20 juta. Ada yang Rp30 juta. Bahkan ada yang mencapai Rp100 juta.
Nominal yang besar.
Namun mungkin bukan hanya uang yang hilang.
Ada kepercayaan yang runtuh.
Ada harapan yang dipermainkan.
Ada perasaan yang ternyata diperlakukan layaknya saldo rekening.
Direktur Reserse Siber Polda Jatim Kombes Pol Bimo Ariyanto mengatakan para pelaku tidak menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau manipulasi digital canggih. Tidak ada suara palsu. Tidak ada wajah buatan AI.
Yang digunakan justru sesuatu yang lebih sederhana.
Mereka berbicara langsung.
Mendengar.
Menemani.
Membuat korban merasa dihargai.
Sebab dalam banyak kasus seperti ini, teknologi hanyalah alat. Yang sebenarnya dijual adalah ilusi bahwa seseorang masih peduli.
Kini tiga orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi juga menemukan pelanggaran keimigrasian, termasuk seorang WNA yang tercatat overstay hingga 885 hari.
Kasus ini masih terus dikembangkan.
Namun ada satu pelajaran yang kembali muncul dari ruang pemeriksaan kepolisian: di era digital, penipuan tidak selalu datang dengan ancaman atau kekerasan. Kadang ia datang membawa kata-kata manis, foto profil yang meyakinkan, dan janji hadiah dari luar negeri.
Lalu saat korban sadar, yang tersisa hanyalah percakapan lama, bukti transfer, dan pertanyaan yang sama:
Apakah yang dicari sejak awal memang cinta, atau hanya seseorang yang mau mendengarkan?












Tinggalkan Balasan