Bacatrend, Surabaya – Kericuhan besar terjadi di pusat Kota Surabaya pada Sabtu malam (30/8), ketika massa aksi membakar Gedung Negara Grahadi dan Polsek Tegalsari dalam demonstrasi yang berujung anarkis. Aksi ini dipicu oleh kemarahan publik terhadap tindakan represif aparat dalam beberapa hari terakhir.

Sejak sore, ribuan demonstran berkumpul di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, menuntut pembebasan rekan mereka yang ditahan dan mengecam kekerasan aparat selama aksi sebelumnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sempat menemui massa sekitar pukul 20.39 WIB, didampingi Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, dan berjanji akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk membebaskan para tahanan.

Namun, sekitar pukul 21.30 WIB, situasi memanas. Massa mulai melemparkan bom molotov ke sisi barat Gedung Negara Grahadi, menyebabkan kebakaran hebat yang melahap ruang kerja Wakil Gubernur Emil Dardak, ruang wartawan, dan ruang Kepala Biro Umum.









Petugas pemadam kebakaran dikerahkan melalui pintu belakang untuk mengendalikan api.

Tak lama berselang, massa bergerak ke arah Jalan Basuki Rahmat dan menyerbu Polsek Tegalsari sekitar pukul 00.33 WIB. Mereka menembakkan petasan dan melempar cairan mudah terbakar ke lobi utama, menyebabkan bangunan terbakar hampir seluruhnya. Massa juga mencoret plakat Polsek dengan tulisan bernada kecaman dan membakar barang hasil penjarahan di jalan.

Saksi mata menyebutkan bahwa aparat sempat menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa, namun kerusuhan terus berlanjut hingga dini hari. Jalan Tegalsari dan Simpang Dukuh lumpuh total akibat blokade massa.

Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau total kerugian material. Aparat masih berjaga di lokasi dan melakukan penyisiran. Pemerintah daerah didesak untuk segera melakukan evaluasi dan membuka ruang dialog guna meredam ketegangan yang terus meningkat.