Kronologi Tragedi Pesta Rakyat Anak KDM, Saat Syukuran Pernikahan Berubah Menjadi Duka
Bacatrend, Garut – Hari itu seharusnya menjadi momen bahagia. Alun-alun Garut dihiasi keceriaan, iringan musik tradisional, aroma makanan gratis, dan lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru kota.
Mereka datang bukan hanya untuk menikmati pesta rakyat, tetapi juga untuk menjadi saksi perayaan pernikahan putra Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Maula Akbar Mulyadi, dengan Wakil Bupati Garut, Putri Karlina.
Tapi siapa sangka, pesta itu justru berubah menjadi lautan duka.
Ribuan warga mulai memadati area Pendopo dan Alun-alun Garut sejak pagi hari, Jumat, 18 Juli 2025.
Tak hanya dewasa, anak-anak hingga lansia turut hadir, berharap bisa mencicipi hidangan gratis dan menyaksikan hiburan yang dijanjikan terbuka untuk umum. Namun suasana berubah drastis menjelang siang.
Usai salat Jumat, sekitar pukul 13.00 WIB, gerbang pendopo mulai dibuka. Dalam hitungan menit, kerumunan yang tadinya terkendali berubah menjadi desakan massa. Warga berlomba-lomba masuk ke area utama, saling dorong, saling himpit.
Teriakan panik terdengar dari berbagai sudut. Beberapa orang jatuh, lainnya terinjak. Tak sedikit yang pingsan karena kekurangan oksigen dan kepanikan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anggota polisi, Bripka Cecep Saeful Bahri, mencoba menolong. Ia menarik beberapa korban keluar dari himpitan, tetapi akhirnya tumbang sendiri karena kelelahan dan sesak napas. Ia kemudian dinyatakan meninggal dunia di RS TNI Guntur.
Bersamaan, dua korban lain menyusul: Vania Aprilia, bocah delapan tahun yang datang bersama ibunya, dan Dewi Jubaedah, seorang nenek 61 tahun dari kawasan Sukamentri. Keduanya tak sempat diselamatkan, terhimpit dalam kerumunan tanpa udara.
“Saya tidak menyangka akan seperti ini. Awalnya ramai biasa, tapi begitu pintu dibuka, semua langsung rusuh. Anak saya sempat terpisah, saya panik,” cerita Siti, warga Tarogong yang berada di lokasi.
Tim medis dan aparat segera turun tangan. Puluhan korban pingsan dan luka ringan langsung dirawat di tempat, sebagian dibawa ke RSUD dr. Slamet Garut.
Tapi suasana sudah berubah. Pesta berubah muram. Musik berhenti. Tangis terdengar dari keluarga korban.
Gubernur Dedi Mulyadi, yang tengah menghadiri resepsi internal keluarga, menyampaikan belasungkawa. Ia mengaku tidak tahu-menahu tentang skala acara terbuka yang diselenggarakan.
“Saya benar-benar turut berduka. Ini di luar kendali saya. Acara keluarga sebenarnya baru malam harinya,” ujarnya saat dikonfirmasi media.
Sebagai bentuk empati, ia langsung mengunjungi keluarga korban dan menyerahkan santunan sebesar Rp150 juta untuk masing-masing keluarga.
Namun pernyataan itu tak menyurutkan kritik publik. Banyak pihak mempertanyakan kenapa tidak ada sistem keamanan dan pengaturan massa yang memadai. Ribuan warga datang tanpa regulasi jelas, tanpa jalur evakuasi, dan tanpa cukup petugas di lapangan.
“Ini bukan hanya soal santunan. Harusnya ada SOP. Warga itu datang karena diajak merayakan. Mereka percaya ini aman,” kata Dede Firmansyah, pengamat kebijakan publik asal Bandung.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa insiden terjadi akibat lonjakan massa yang tidak terkendali. Penyelidikan pun tengah dilakukan untuk menelusuri penyelenggara teknis dan apakah ada kelalaian dalam perencanaan.
Di sisi lain, Garut berduka. Kota kecil ini tidak akan melupakan bagaimana pesta besar itu berakhir. Vania, Cecep, dan Dewi menjadi nama-nama yang kini lekat dalam ingatan banyak orang—sebagai korban dari euforia tanpa kendali.
Karena pada akhirnya, pesta rakyat semestinya membawa sukacita. Bukan membawa nyawa yang melayang pulang tanpa pamit.











Tinggalkan Balasan