Luka Batin Buat Dokter Lulusan UI hingga Italia Ini Tinggal di Kolong Jembatan
Bacatrend, Demak – Di bawah gemuruh kendaraan yang melintas di jembatan Kadilangu, di antara debu dan desau angin yang tak mengenal waktu, tersembunyi satu sosok yang dulu dielu-elukan sebagai putra terbaik bangsa. Ia bukan orang biasa yang kebetulan terjatuh.
Ia adalah dr. Hafid, seorang dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan lulusan Universitas Indonesia, yang pernah mengecap pendidikan lanjutan di Singapura dan melanjutkan studinya hingga ke negeri seni dan sains: Italia. Hafid adalah epitome dari keberhasilan akademis dan profesional, sosok yang tak hanya pintar tetapi juga pernah hidup dalam kehangatan cinta dan harapan masa depan.
Dulu, rumahnya berdiri kokoh di kota Jember, berisi canda tawa sang istri yang juga seorang dokter asal Cianjur dan satu-satunya buah hati yang ia banggakan, anak lelaki yang berkuliah di Jerman dan hampir meraih gelar akademik di negeri asing. Bersama sang istri, Hafid membangun apotek, klinik, dan kehidupan yang penuh dedikasi kepada masyarakat. Ia bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi menghadirkan harapan. Di tangan Hafid, pasien bukan sekadar kasus medis, melainkan manusia utuh yang layak mendapat perhatian. Dunia memeluknya dalam pujian.
Namun, hidup adalah panggung drama yang tak selalu menawarkan babak bahagia. Istrinya berpulang dalam kecelakaan yang menampar nalarnya. Ia masih mencoba berdiri, walau tertatih. Tapi semesta menambahkan luka kedua: anak semata wayangnya meninggal dunia dalam kecelakaan saat hendak kembali ke pangkuan rumah. Dua berita buruk itu seolah membekukan waktu. Hafid ambruk—bukan secara fisik, tetapi hancur dari dalam, menyisakan ruang kosong yang tak bisa diisi lagi. Ia tak hanya kehilangan keluarga. Ia kehilangan dirinya sendiri.
Tak ada lagi yang penting. Rumah ditinggalkan. Apotek dikunci. Rekan sejawat tak lagi dikabari. Hafid berjalan menjauh dari semua yang pernah menjadi bagian dirinya. Ia tiba di Demak, bukan untuk membuka praktik atau mencari penghidupan baru, tetapi untuk mengasingkan diri. Di bawah kolong jembatan Kadilangu, ia membangun hunian kecil dari sisa-sisa kardus dan plastik. Selama sembilan tahun terakhir, itulah rumahnya. Rumah yang tak mengenal dinding, hanya langit sebagai atap dan tanah sebagai alas.
Setiap pagi, Hafid bangun dengan langkah yang tak tergesa. Ia berjalan kaki ke Masjid Kadilangu, menyusun shalat dengan khusyuk. Lalu ia ziarah ke makam Sunan Kalijaga, mencari ketenangan yang tak diberikan dunia. Kain sarung menjadi teman sejati, dan tas jinjing robek berisi kitab usang menjadi satu-satunya warisan dari masa silam. Ia tak meminta belas kasih. Ia tak ingin dikasihani. Yang ia cari adalah damai dalam sepi, pelukan semesta dalam diam.
Wawancara bersama kanal YouTube Sinau Hurip yang dipandu oleh Sukaryo Adiputro membuka mata banyak orang. Di layar yang biasa menyajikan hiburan, kali ini kita melihat sosok nyata yang telah melalui api dan lumpur kehidupan. Suaranya lirih, tetapi tegas. Matanya redup, tetapi menyimpan bara. Ia bukan pecundang. Ia adalah manusia yang memilih untuk tidak lagi berlomba. Karena dalam luka itu, ia telah menemukan sesuatu yang dunia tak bisa beri: ketenangan dalam kehilangan.
Mungkin ia tidak memiliki lagi gelar yang terpajang di dinding. Tidak ada white coat dan stetoskop. Tapi di kolong jembatan itu, Hafid menjadi cermin bagi kita semua—betapa rapuhnya manusia, betapa sempitnya jarak antara kemegahan dan kehampaan. Ia adalah puisi hidup yang ditulis oleh tragedi, namun tetap dibacakan dengan nada damai.











Tinggalkan Balasan