Memalukan! Mobil Propam Jadi Kendaraan Romantis Anak Pejabat Polres
Bacatrend, MEDAN – Kota Medan bukan sedang merayakan parade, namun satu tayangan video membuat seluruh warga seolah berbondong-bondong memalingkan pandangan: sebuah mobil dinas Propam Polres Tapanuli Selatan melaju bebas di jalanan kota. Bukannya dikendalikan oleh aparat berseragam, justru terlihat dikemudikan oleh seorang remaja pria berusia 16 tahun, dengan seorang perempuan muda bersantai di sampingnya.
Wajah hukum pun tercoreng. Mobil dinas yang seharusnya menjadi simbol ketertiban internal kepolisian justru berubah wujud menjadi kendaraan gaya-gayaan yang menyerempet pengendara lain. Adegan itu terekam dalam sebuah video dan menyebar cepat seperti kabut viral di media sosial.
“Ini tindakan yang memalukan. Harusnya kendaraan seperti itu digunakan untuk menjaga etika dan disiplin, bukan untuk pacaran di jalan raya,” ujar Nina Lubis, aktivis pemantau etika aparat, saat dimintai pendapat atas fenomena ini.
Mobil tersebut diketahui milik Plh Kasi Propam Polres Tapanuli Selatan, Iptu Asrul Pane, dan digunakan secara ilegal oleh anaknya, AP (16). Klarifikasi pun datang dari Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Ferry Walintukan.
“Pada saat yang bersangkutan sedang istirahat di rumah, kendaraan dinas digunakan oleh anaknya untuk jalan-jalan di Kota Medan,” ungkap Ferry.
Meski Ferry menegaskan bahwa tidak ada tabrak lari dan hanya terjadi serempetan ringan tanpa kerusakan, masyarakat terlanjur tersulut. Bagi publik, ini bukan sekadar pelanggaran teknis—ini pengkhianatan terhadap kepercayaan.
Kabid Propam Polda Sumut, Kombes Pol Julihan Muntaha, menyatakan bahwa pihaknya sudah memanggil Iptu Asrul untuk dimintai klarifikasi. “Jika terbukti melanggar, tentu akan dikenakan sanksi sesuai aturan,” ujarnya singkat.
Pengamat hukum pidana dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Riko Tampubolon, turut bersuara. Ia menyebut bahwa penggunaan kendaraan dinas oleh sipil memiliki konsekuensi hukum yang serius. “Jika sampai menimbulkan korban, maka unsur pidananya akan makin kuat. Aset negara itu tunduk pada penggunaan resmi, bukan hiburan keluarga,” katanya.
Dosen komunikasi publik, Siti Marlina, mengibaratkan insiden ini sebagai titik nadir kepercayaan publik. “Mobil Propam kini bukan lagi lambang disiplin, tapi mimpi buruk beroda empat. Dan itu tragis.”











Tinggalkan Balasan