Bacatrend, Surabaya – Di sebuah sudut kampung di kawasan Putatgede, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, sempat muncul sebuah mural yang mencuri perhatian.

Bukan lukisan biasa, gambar itu menyerupai bendera bajak laut dari anime populer One Piece—tengkorak bertopi jerami di atas latar hitam, dikenal sebagai Jolly Roger.

Mural tersebut menghiasi paving jalan kampung, menjadi semacam simbol yang tak lazim di tengah suasana menjelang Hari Kemerdekaan.

Namun, tak lama berselang, mural itu telah dihapus. Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) turun tangan melakukan penertiban. Kepala Bakesbangpol, Tundjung Iswandaru, membenarkan bahwa mural tersebut telah dibersihkan. “Sudah kami tindak. Mural itu sudah dihapus dari lokasi,” ujarnya.









Tak hanya mural, sejumlah bendera bergambar tengkorak yang sempat dikibarkan warga di beberapa titik juga telah diturunkan. Menurut Tundjung, langkah ini diambil demi menjaga semangat nasionalisme dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. “Kami ingin suasana kemerdekaan tetap terjaga. Simbol tengkorak tidak cocok untuk momen seperti ini,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pihaknya mendorong warga untuk lebih aktif memasang bendera Merah Putih sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan bangsa. “Perayaan HUT RI seharusnya dihiasi dengan simbol-simbol kebangsaan, bukan ikon bajak laut,” tegasnya.

Namun di balik penertiban itu, tersimpan cerita lain. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkap bahwa mural tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan bentuk ekspresi sosial. “Itu bukan vandalisme, tapi suara hati warga. Kami ingin menyampaikan sesuatu dengan cara yang kreatif,” ujar Eko, salah satu pemuda kampung.

Ia menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai terlalu cepat bereaksi. Menurutnya, mural itu tidak merusak fasilitas umum dan justru menjadi daya tarik tersendiri. “Tidak ada niat menyinggung siapa pun. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa seni bisa menjadi medium untuk berbicara,” tuturnya.

Di tengah semangat kemerdekaan, kisah mural bajak laut ini menjadi pengingat bahwa ekspresi warga bisa muncul dalam berbagai bentuk—kadang tak biasa, kadang kontroversial. Tapi di balik itu, ada ruang untuk dialog antara kreativitas dan kebijakan, antara suara rakyat dan semangat nasionalisme.