Nestapa Penjual Es Gabus yang Dituduh Jual Es Spons, Sudrajat: Saya Ingin Keadilan!
Bacatrend, Jakarta – Nestapa seorang penjual es gabus bernama Sudrajat (50) di Kemayoran, Jakarta Pusat, menjadi kisah getir yang mengguncang hati publik. Sabtu (24/1), dagangan sederhana yang seharusnya membawa segar di tengah teriknya siang, justru berubah menjadi panggung penghinaan.
Es gabus yang ia jajakan diremas aparat hingga cairannya tumpah ke lantai. Sisa es yang dituduh sebagai spons kemudian dijejalkan ke mulutnya, dan adegan itu viral di media sosial.
“Saya dipaksa makan dagangan sendiri, padahal itu es gabus biasa. Rasanya sakit sekali, bukan hanya di badan, tapi di hati,” kata Sudrajat dengan suara bergetar.
Tuduhan bahwa es gabusnya berbahan spons ternyata tak berdasar. Polres Metro Jakarta Pusat melakukan uji laboratorium dan hasilnya jelas: es gabus Sudrajat aman dikonsumsi.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menegaskan, “Tidak benar es gabus itu berbahan spons. Hasil laboratorium menyatakan aman.”
Namun klarifikasi itu datang setelah nama baik Sudrajat terlanjur tercoreng. Publik sudah lebih dulu menelan sensasi video viral ketimbang menunggu fakta.
Sudrajat hanya menerima ganti rugi Rp 300.000 atas dagangan yang rusak. Jumlah itu tak sebanding dengan kerugian moral, reputasi, dan trauma yang ia tanggung.
Ia mengaku belum menerima permintaan maaf langsung dari aparat yang mempersekusinya. “Saya hanya ingin keadilan. Jangan ada lagi pedagang kecil diperlakukan seperti ini,” katanya.
Aktivis perlindungan konsumen, Rina Sari, menilai kasus ini mencerminkan lemahnya perlindungan bagi pedagang kecil. “Sudrajat adalah korban persekusi. Aparat seharusnya mengedukasi, bukan mempermalukan,” ujarnya.
Babinsa Utan Panjang, Heri, yang terlibat dalam kejadian itu, hanya berkomentar singkat. “Kami curiga ada bahan berbahaya. Tapi ternyata salah. Kami sudah mengganti kerugian,” katanya.
Nestapa Sudrajat adalah simbol rapuhnya posisi pedagang kecil di tengah aparat dan arus informasi digital. Tuduhan sepihak, video viral, dan minimnya perlindungan hukum membuat mereka mudah menjadi korban.
Es gabus, jajanan nostalgia yang seharusnya membawa kenangan manis masa kecil, justru dijadikan bahan olok-olok. Luka sosial dan psikologis yang dialami Sudrajat tak bisa dihapus dengan uang ganti rugi.
Ia kehilangan martabat, reputasi, dan rasa aman hanya karena tuduhan yang terbukti salah. Dan di balik semua itu, tersisa satu suara yang menggema: “Saya ingin keadilan.”












Tinggalkan Balasan