Bacatrend, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan dirinya tidak anti terhadap kritik dan siap melakukan koreksi atas kebijakan pemerintah yang dinilai berlebihan. Hal ini disampaikan dalam pidato pada Perayaan Natal Nasional Tahun 2025 yang digelar di Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (5/1) malam.

Di hadapan jemaat Kristiani, Prabowo menekankan bahwa kritik dan koreksi justru menjadi pengingat sekaligus penyelamat bagi seorang pemimpin. Ia merespons tudingan sejumlah kalangan yang menilai gaya kepemimpinannya berpotensi menghidupkan kembali militerisme di Indonesia. “Kritik, koreksi adalah menyelamatkan. Jadi, saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak: Prabowo ini mau hidupkan kembali militerisme! Wah, baru saya koreksi. Apa bener? Oke, baru kita lihat, panggil ahli hukum, panggil di mana? Iya kan. Mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter,” kata Prabowo dalam pidatonya.

Presiden menambahkan bahwa kritik bukanlah ancaman, melainkan bentuk bantuan agar kepemimpinan tetap berjalan sesuai koridor hukum dan demokrasi. “Kalau kritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, tidak suka dikoreksi, tetapi sesungguhnya itu mengamankan,” ujarnya.

Sejak awal masa pemerintahannya, Prabowo kerap mendapat sorotan dari sejumlah pengamat dan kelompok sipil terkait gaya kepemimpinannya yang dianggap keras. Penempatan figur berlatar belakang militer di posisi strategis pemerintahan serta kebijakan keamanan yang tegas memunculkan kekhawatiran akan kembalinya pola militerisme. Namun, Prabowo menegaskan bahwa setiap kebijakan tetap berada dalam kerangka konstitusi dan selalu melibatkan ahli hukum untuk memastikan tidak ada langkah yang melampaui batas demokrasi.









Pidato Prabowo dalam perayaan Natal Nasional memiliki makna simbolis. Selain menunjukkan penghormatan terhadap umat Kristiani, ia juga menegaskan komitmen untuk menjaga persatuan bangsa. Dengan menyampaikan pesan keterbukaan terhadap kritik di forum lintas agama, Prabowo ingin menegaskan bahwa kepemimpinannya tidak eksklusif dan siap menerima masukan dari berbagai kalangan.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kritik bukanlah ancaman, melainkan pengaman bagi kepemimpinan. Tuduhan soal militerisme dijawab dengan komitmen untuk melakukan evaluasi dan koreksi kebijakan secara terbuka. Sikap ini menjadi sinyal positif bagi demokrasi Indonesia, meski tetap membutuhkan pengawasan publik agar kebijakan pemerintah berjalan sesuai prinsip konstitusi dan hak asasi manusia.