Bacatrend, Jakarta — Suasana penutupan Musyawarah Nasional VI Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendadak riuh saat Presiden Prabowo Subianto melontarkan guyonan politik yang menyentil perjalanan panjangnya dalam kontestasi pemilihan presiden.

Dalam pidatonya di Hotel Sultan, Jakarta, Prabowo membuka dengan refleksi jenaka soal kekalahan:

“Kita ingin menang tapi kita juga harus siap kalah. Kalau mau belajar kalah, belajar dari Prabowo Subianto,” ucapnya disambut tawa peserta Munas.

Ia menyebut telah mengikuti lima kali pemilihan presiden dan kalah empat kali, lalu menyindir PKS yang disebut “ikut-ikutan” tidak mendukungnya di Pilpres 2024:









“Lima kali pemilihan, empat kali kalah. PKS ikut-ikutan lagi,” katanya sambil tertawa.

Pernyataan itu merujuk pada sikap PKS yang mendukung pasangan Anies Baswedan–Muhaimin Iskandar dalam Pilpres 2024, bukan Prabowo–Gibran.

Meski sempat berada di kubu berseberangan, Prabowo tetap hadir sebagai kepala negara dan disambut hangat oleh jajaran pimpinan PKS, termasuk Presiden PKS Almuzzammil Yusuf dan Ketua Majelis Syuro Sohibul Iman.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung rivalitasnya dengan Anies Baswedan yang sempat memberi nilai “11” dalam debat Pilpres. Namun ia menegaskan tidak menyimpan dendam:

“Saya tuh enggak dendam sama Anies, enggak. Kalau dikasih nilai 11 gue tuh gak apa-apa,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut penilaian itu justru membuat banyak “emak-emak” bersimpati padanya, yang menurutnya turut berkontribusi pada kemenangannya.

PKS sendiri mengapresiasi pidato Prabowo di Sidang Umum PBB dan mendukung komitmennya mengirim 20.000 pasukan perdamaian ke luar negeri. Sikap ini menunjukkan bahwa hubungan antara PKS dan pemerintah tetap terbuka, meski berbeda pilihan politik.

Penutupan Munas VI PKS pun menjadi simbol rekonsiliasi politik dan ruang dialog lintas kubu, dengan Prabowo tampil sebagai pemimpin yang tak segan mengolok masa lalu demi mencairkan suasana.