Bacatrend, Jombang – Di ruang operasi, di mana nyawa dipertaruhkan dan harapan mengembang, seharusnya hanya ada ketenangan dan profesionalisme.

Namun yang terjadi di sebuah rumah sakit umum PKU Muhammadiyah di Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur justru menciptakan riak kegaduhan yang tak terduga.

Sebuah video menunjukkan seorang perawat berseragam medis melakukan siaran langsung di media sosial, mengguncang dunia maya dan menggoyahkan kepercayaan publik terhadap etika profesi kesehatan.

Rekaman itu, yang kemudian diunggah oleh akun Instagram @inijawatimur, memperlihatkan seorang perawat dengan santai mengabarkan jalannya operasi caesar.









“Mas Rizal lagi jahit di belakang, urung mari (belum selesai). Gak papa sambil live, sing penting gak kelihatan pasiennya,” ujarnya dalam video yang kini telah ditonton ribuan kali.

Masyarakat segera bereaksi. Operasi medis bukan sekadar prosedur, melainkan simbol harapan, tempat terakhir bagi pasien untuk menggantungkan hidupnya pada keahlian para tenaga medis.

Lalu, bagaimana jika kepercayaan itu goyah hanya karena godaan sorotan kamera?

Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang segera mengambil tindakan.

“Keduanya sudah kami panggil dan beri pembinaan. Rumah sakit pun telah kami beri surat teguran,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada.

Namun, teguran saja tak cukup. RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung, tempat para perawat tersebut bekerja, mengambil langkah lebih tegas.

“Kami punya regulasi internal yang jelas. Apa yang dilakukan K dan R adalah pelanggaran berat terhadap kode etik profesi. Dengan berat hati, kami memutuskan mereka tidak dapat melanjutkan pekerjaan di sini,” ujar Direktur RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung, dr Dwi Rizki Wulandari.

Pesan pun disampaikan kepada seluruh tenaga medis, sebagai pengingat bahwa profesi ini menuntut bukan hanya keterampilan, tetapi juga kehormatan.

“Kami mengimbau semua tenaga medis untuk lebih bijak bermedia sosial. Kepercayaan pasien adalah hal yang sangat berharga dan harus dijaga dengan penuh tanggung jawab,” tutupnya.

Peristiwa ini menjadi cerminan betapa mudahnya batas profesionalisme terkikis di era digital.

Hanya dengan satu klik, satu unggahan, konsekuensi yang harus ditanggung bisa lebih besar dari yang dibayangkan.

Kepercayaan bukan sekadar janji, melainkan sesuatu yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, karena sekali pecah, sulit untuk memperbaikinya.