ACAB dan 1312, Jejak Sejarah Slogan Perlawanan Buruh Terhadap Polisi Di Inggris
Bacatrend, Jakarta – Slogan kontroversial “ACAB” yang merupakan akronim dari “All Cops Are Bastards” kembali menjadi sorotan publik di tengah meningkatnya demonstrasi sipil di berbagai negara. Kode numerik “1312” yang kerap menyertainya adalah representasi alfabetis dari akronim tersebut: 1 untuk A, 3 untuk C, 1 untuk A, dan 2 untuk B.
Meski dianggap ofensif oleh sebagian kalangan, sejarah ACAB menunjukkan bahwa frasa ini telah lama digunakan sebagai simbol kritik terhadap institusi kepolisian, bukan terhadap individu aparat secara personal.
Berakar dari Mogok Buruh Inggris
Menurut laporan GQ dan sejumlah sumber sejarah, frasa “All Coppers Are Bastards” pertama kali digunakan oleh para pekerja di Inggris pada awal abad ke-20. Pada era 1940-an, buruh yang melakukan aksi mogok kerja mulai menyederhanakan frasa tersebut menjadi ACAB, sebagai bentuk perlawanan terhadap aparat yang dianggap berpihak pada pengusaha dan menindas hak-hak pekerja.
Slogan ini kemudian menyebar luas melalui budaya punk dan gerakan anarkis pada 1970-an hingga 1980-an. Lagu berjudul “ACAB” yang dirilis oleh band punk Inggris The 4-Skins pada 1982 turut memperkuat popularitas slogan tersebut di kalangan generasi muda.
ACAB dan 1312 kini menjadi simbol global dalam demonstrasi yang menyoroti kekerasan aparat, penyalahgunaan wewenang, dan ketidakadilan sistemik. Di Indonesia, istilah ini mulai dikenal luas pasca-reformasi 1998 dan kembali muncul dalam berbagai aksi protes sipil, terutama saat terjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Meski menuai kontroversi, banyak aktivis menegaskan bahwa slogan ini ditujukan sebagai kritik terhadap sistem dan institusi kepolisian yang dianggap gagal menjalankan fungsi perlindungan dan keadilan secara adil dan transparan.
Penggunaan ACAB dan 1312 memicu perdebatan antara kebebasan berekspresi dan etika publik. Sebagian kalangan melihatnya sebagai bentuk perlawanan sah terhadap ketidakadilan, sementara lainnya menganggapnya sebagai bentuk penghinaan yang merusak citra institusi hukum.
Seiring meningkatnya tuntutan reformasi kelembagaan dan akuntabilitas aparat, slogan ACAB tetap menjadi simbol yang menggugah diskusi tentang peran polisi dalam masyarakat demokratis.











Tinggalkan Balasan