Biadab! Perempuan Ojol Tulang Punggung Keluarga itu Tewas Terbungkus Kardus
Bacatrend, Gresik – Di tengah riuh lintas pagi di Jalan Raya Kedamean, Gresik, Minggu itu berubah menjadi mimpi buruk yang terbungkus kardus dan plastik hitam. Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB ketika seorang pengendara motor yang kebetulan melintas memelankan laju kendaraannya—matanya terpaku pada benda mencurigakan di antara semak belukar. Apa yang ia temukan bukan sekadar temuan janggal, melainkan potret nyata dari kebiadaban yang menjelma dalam diam: sesosok tubuh perempuan tertekuk membisu di dalam kardus, dikelilingi aroma kematian dan ketidakadilan.
Nama korban akhirnya terungkap: Sevi Ayu Claudia, perempuan 30 tahun asal Sidoarjo, yang dikenal sebagai pengemudi ojek online. Ia meninggalkan rumah tanpa atribut pekerjaannya, mungkin dengan niat menjalani rutinitas seperti biasa. Tak seorang pun menduga bahwa langkah terakhirnya akan berujung pada pusaran gelap yang menelan hidupnya tanpa ampun.
Tubuhnya menyimpan banyak cerita. Kepala dipenuhi luka memar, punggung, dada, perut dan tangan menunjukkan bekas kekerasan. Hasil autopsi mengungkap tragisnya penyebab kematian: pendarahan di bawah selaput otak akibat hantaman benda tumpul. Di balik benturan itu, tersimpan misteri cairan putih di area kelamin yang membuat penyelidikan berbelok ke kemungkinan kekerasan seksual.
Kapolres Gresik AKBP Rovan Richard Mahenu membenarkan semua itu dalam pernyataan resmi. “Korban meninggal akibat kekerasan benda tumpul di kepala yang menyebabkan pendarahan di bawah selaput otak,” tegasnya saat konferensi pers pada Senin, 28 Juli. Ia menambahkan bahwa pemeriksaan toksikologi akan dilakukan pada organ dalam dan kuku korban guna mengungkap jejak pelaku.
Polres Gresik tidak tinggal diam. Identitas pelaku sudah di tangan mereka—disebut sebagai sesama pengemudi ojek online. Tapi demi penyidikan, nama itu belum dilepas ke publik. “Anggota sudah melakukan pengejaran. Kami mohon doanya, semoga pelaku bisa tertangkap dalam waktu kurang dari 1×24 jam,” ujar Rovan, menyiratkan urgensi dalam suara yang masih menyimpan kemarahan.
Kardus itu bukan sekadar tempat penyembunyian jasad. Ia adalah saksi bisu dari malam yang menjadi akhir bagi seorang perempuan pekerja keras. Dan Jalan Raya Kedamean tak lagi hanya jadi jalur lintasan—ia berubah menjadi panggung kelam dari ironi kehidupan modern. Sebuah panggilan sunyi bagi siapa pun yang masih percaya bahwa keadilan harus terus dikejar, meski nyawa sudah lebih dulu direnggut.











Tinggalkan Balasan