Bacatrend, Jambi — Di tengah malam yang mestinya menjadi panggung bagi para pencuri beraksi dalam senyap, seorang pemuda bernama Pajri justru menulis babak paling absurd dalam sejarah kriminal lokal. Bukannya membawa kabur barang berharga, ia malah membawa dirinya sendiri ke alam mimpi, terlelap di atas kasur milik korban yang rumahnya baru saja ia bobol.

Pajri, 19 tahun, warga Desa Setiris, Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi, memulai aksinya dengan semangat yang nyaris heroik. Sekitar pukul tiga dini hari, ia memanjat pagar seng rumah korban dengan tekad seorang pejuang. Pintu belakang yang hanya ditutup tripleks dijebolnya dengan gaya yang mungkin ia pelajari dari film aksi murahan. Ia masuk, mengacak-acak isi rumah, berharap menemukan emas, uang, atau setidaknya ponsel pintar. Tapi yang ia temukan justru adalah kasur empuk yang menggoda seperti pelukan hangat di musim hujan.

Dan di sanalah, sang maling menyerah. Bukan pada polisi, bukan pada warga, tapi pada kantuk. Ia berbaring, memejamkan mata, dan tenggelam dalam tidur yang begitu dalam, seolah rumah itu miliknya sendiri. Ia tidur dengan damai, tanpa rasa bersalah, tanpa rasa takut, hingga pagi menjelang dan dunia nyata kembali menuntut kehadirannya.

Korban yang datang pagi hari untuk mengecek rumahnya terkejut bukan main. Pintu terbuka, barang-barang berantakan, dan seorang pemuda asing tertidur pulas di kamarnya. Tak ada teriakan, tak ada kejar-kejaran. Pajri bangun dengan wajah bingung, dikelilingi warga yang sudah siap menyerahkannya ke polisi. Ia tak sempat kabur, tak sempat menyusun alibi. Ia hanya bisa pasrah, seperti anak sekolah yang lupa mengerjakan PR.









Kapolsek Jambi Timur, AKP Edi Mardi Siswoyo, menyebut bahwa Pajri telah mengintai rumah tersebut sejak malam. Ia bahkan sempat tidur di depan pagar sebelum memutuskan untuk masuk. Mungkin sejak awal, niatnya bukan mencuri, tapi mencari tempat tidur yang lebih layak. Mungkin ia hanya ingin istirahat, dan rumah korban tampak seperti surga kecil di tengah kelelahan hidup.

Aksi Pajri bukan hanya soal pencurian gagal. Ia adalah potret tragis dari keputusasaan yang dibalut dengan komedi. Di usia yang masih muda, ia bukan penjahat ulung, melainkan remaja yang tersesat di lorong gelap kehidupan. Tidurnya di kasur korban adalah simbol dari betapa rapuhnya niat jahat jika tidak dibarengi stamina dan logika.

Kini, Pajri harus menghadapi kenyataan pahit: bukan hanya gagal mencuri, tapi juga menjadi legenda urban yang akan dikenang warga Jambi sebagai maling yang ketiduran. Ia tak hanya kehilangan kebebasan, tapi juga martabat yang tertinggal di atas kasur orang lain. Dan bagi kita semua, kisah ini adalah pengingat bahwa kadang hidup menulis cerita yang lebih lucu dari komedi, lebih tragis dari drama, dan lebih nyata dari mimpi buruk.