Kencan Terakhir Gadis Desa Tingkis, Berakhir Maut Di Lumpur Sawah
Bacatrend, Tuban — Di tengah gulita malam dan desir angin persawahan Mulyoagung yang biasanya damai, terkuak kenyataan yang lebih dingin dari embun subuh, seorang perempuan muda meregang nyawa, tubuhnya terbenam di lumpur, hatinya hancur oleh cinta yang berubah menjadi murka.
Namanya belum disebut, hanya sebuah kalung emas berbandul huruf “P” yang tersisa—sunyi tapi bercerita.
Ia, perempuan 22 tahun dari Desa Tingkis, tak pernah menyangka bahwa kencan terakhirnya bersama kekasih yang baru dua bulan menjalin hubungan melalui layar Instagram akan berubah menjadi nyanyian maut yang tak sempat berhenti di bait kedua.
Sulthon Farid Ahmadi, lelaki 25 tahun asal Desa Mergosari, adalah sosok yang kini berdiri di balik garis polisi dengan tatapan kosong. “Karena dia mau dinikahkan dengan orang lain… saya sakit hati,” tuturnya, lirih. Penyesalannya kini tak mampu menghapus jejak langkah berdarah yang ia tinggalkan di petak sawah yang basah oleh lumpur dan sesal.
Menurut AKP Dimas Robin Alexander, Kasat Reskrim Polres Tuban, malam itu bukan hanya menjadi saksi pertengkaran dua sejoli, tapi juga kejatuhan nilai kemanusiaan. “Motifnya asmara—cinta yang retak dan berubah menjadi tragedi,” katanya.
Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh perempuan itu. Bagian belakang leher, wajah, hingga akhirnya—dalam kondisi tak sadarkan diri—ia terhuyung dan wajahnya tenggelam di lumpur malam yang pekat. Tak ada pertolongan. Hanya kesunyian yang mengantar hembusan napas terakhirnya.
Tiga hari ia menghilang, dan ditemukan tak bernyawa oleh petani yang hendak memeriksa sawah. Pukul 10.30 WIB, Senin pagi itu, waktu seolah berhenti di tubir ngeri.
Petugas bergerak cepat. Empat jam berselang setelah mayat ditemukan, pelaku digelandang dari rumahnya. Tak ada pelarian. Hanya tinggal ruang-ruang interogasi yang kini menjadi takdir baru bagi pria yang dikuasai emosi dan hilang kendali karena cinta yang tak bisa dimiliki.











Tinggalkan Balasan