Bacatrend, Intan Jaya — Kabut dini hari di lereng-lereng pegunungan Papua mengantar satu operasi militer yang mencatatkan kembali eskalasi konflik bersenjata di bumi Cendrawasih. Komandan Batalyon Kodap VIII Soanggama Organisasi Papua Merdeka (OPM), Enos Tipagau, dipastikan tewas dalam kontak tembak dengan Satuan Tugas Habema TNI, pada waktu setempat.

Informasi dari masyarakat menjadi titik mula operasi. Enos dilaporkan tengah bergerak menuju daerah ketinggian di Kabupaten Intan Jaya. Satgas gabungan menyisir wilayah, menyelinap melalui jalur-jalur yang tak terjangkau kendaraan, hingga akhirnya menemukan posisi Enos dan kelompoknya. Kontak senjata pun pecah. TNI mengklaim berhasil melumpuhkan Enos dalam baku tembak tersebut.

Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, menyampaikan bahwa operasi ini merupakan bagian dari penegakan hukum terhadap kelompok separatis bersenjata yang selama ini aktif melakukan aksi penyerangan terhadap aparat dan masyarakat.

Enos Tipagau: Jejak Target Prioritas









Enos Tipagau bukan nama baru dalam peta konflik Papua. Dalam catatan TNI, ia ditengarai terlibat dalam sejumlah aksi bersenjata di wilayah Intan Jaya dan sekitarnya. Ia memimpin salah satu unit tempur aktif dalam struktur Kodap VIII Soanggama—unit yang belakangan ini dinilai semakin agresif dalam melakukan mobilisasi.

Operasi di Medan Ekstrem

Wilayah Intan Jaya dikenal sebagai salah satu area dengan topografi paling menantang di Papua. Operasi militer di sana lebih menyerupai perang bayangan: berpacu dengan medan, cuaca, dan informasi intelijen yang tak selalu pasti. Dalam kondisi seperti itulah Satgas Habema—satuan tempur yang dibentuk khusus untuk operasi di Papua Tengah—melaksanakan tugasnya.

Dampak dan Langkah Selanjutnya

Meski operasi ini diklaim sebagai keberhasilan, sejumlah pihak menyerukan pentingnya evaluasi kebijakan pendekatan bersenjata di Papua. Pendekatan keamanan masih menjadi strategi utama negara dalam merespons konflik, namun pertanyaan tentang akar persoalan politik, sosial, dan ekonomi di Papua tak juga sirna.