Rumah Digunduli Pengontrak hingga Tinggal Tembok Nestapa
Bacatrend, Medan – Tumpal Simbolon tak pernah menduga, kesedihannya karena kehilangan sang buah hati akan berlipat ganda saat ia kembali ke rumah yang kini hanya tinggal tembok.
Rumah yang ia beli setahun silam itu tampak seperti reruntuhan pasca perang—atap, pintu, jendela, kusen, semua lenyap, seolah dilahap oleh waktu dan dendam. Video yang beredar di Instagram @tkpmedan menangkap kondisi memilukan tersebut, dan publik pun ikut mengelus dada.
Ia tak bisa berkata-kata saat menyaksikan sendiri kenyataan itu di Dusun XI, Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Rumahnya, yang semestinya menjadi tempat pulang setelah berduka karena kehilangan anak ketiganya dalam transplantasi ginjal, telah “ditelanjangi” oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Ia menyebut nama MT, orang yang dulunya menjual rumah itu kepadanya namun masih tinggal di sana sebagai penyewa selama setahun. Tumpal mempercayakan rumah itu, bahkan memberi waktu ekstra karena alasan kemanusiaan.
Namun saat ia pergi ke Jakarta untuk mendampingi sang anak yang tengah berjuang hidup, yang ia dapatkan justru pengkhianatan. Ia menyebut, “Diangkati atap, broti, kusen, daun pintu, daun jendela, habis semua.” Kalimat itu keluar pelan, namun seperti gemuruh di benaknya. Tak ada tanda-tanda akan terjadi pembongkaran. Tidak ada telepon atau pesan. Yang ada hanya rasa perih saat pulang, dan rumah yang sudah menjadi tumpukan debu dan luka.
Ia telah bertemu dengan pihak Polsek dan kepala lingkungan, berencana mengadukan peristiwa ini secara resmi ke desa. Ia juga curiga MT tak sendiri, melainkan melibatkan beberapa orang lain dalam aksi pembongkaran yang terkoordinasi. “Sudah jumpa orang Polsek. Disarankan melapor dan buat laporan kerugian dulu ke desa,” katanya.
Kasus ini membuat publik bereaksi cepat. Netizen menyuarakan empati, menyarankan jalur hukum, dan menyorot perlunya perlindungan hukum atas kepemilikan rumah yang sah. Warga sekitar pun mengaku tak tahu menahu soal kepemilikan rumah yang telah berpindah tangan. Dalam kegelapan informasi, MT justru mengambil kesempatan di tengah kesedihan, sebuah tindakan yang lebih dari sekadar tidak etis—ia menusuk dari belakang, tepat saat korban sedang jatuh terdalam.
Tragedi ini bukan sekadar tentang seng dan kusen yang hilang, melainkan tentang kepercayaan yang dikhianati, tentang ruang yang direnggut saat hati baru saja kehilangan separuhnya. Jika rumah adalah tempat berlindung, maka Tumpal kini bukan hanya kehilangan atap, tapi juga rasa aman yang selama ini ia genggam. Ini bukan hanya berita lokal. Ini adalah potret memilukan tentang betapa rapuhnya rasa percaya, dan betapa tega dunia bisa mencabut segalanya—bahkan saat kita sedang meratap kehilangan.











Tinggalkan Balasan