Bacatrend, Kediri – Malam itu, Desa Kepung di Kabupaten Kediri bersinar dalam gemerlap karnaval budaya. Dentuman sound horeg menggema, mengiringi arak-arakan warga yang larut dalam euforia. Namun di balik sorak-sorai, empat pria dari Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, memilih jalur berbeda untuk merayakan: menenggak miras oplosan yang dijual murah di pinggir acara. Tiga dari mereka tak pernah pulang dengan selamat.

Purnomo, 43 tahun, buruh harian lepas, adalah yang pertama mengeluh sakit. Ia sempat pulang ke rumah dan beristirahat, namun Senin pagi, tubuhnya tak lagi mampu bertahan. Dua keponakannya, Deta Wirapratma (23) dan Agung Winarko (21), menyusul ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Mereka dirawat intensif di ICU Rumah Sakit Kabupaten Kediri, namun tak tertolong. Deta meninggal dini hari Selasa, disusul Agung pada sore harinya.

“Awalnya mereka cuma bilang perutnya sakit, dada sesak. Tapi nggak mau ke rumah sakit karena nggak punya uang,” ujar Sudaryono, Kepala Dusun Gadungan Timur, dengan nada getir.

Minuman keras yang dikonsumsi korban dibeli di sekitar lokasi karnaval, seharga Rp10.000 per gelas. Total Rp200.000 dihabiskan untuk empat orang. Tidak ada label, tidak ada jaminan keamanan. Hanya cairan bening yang dijanjikan bisa “menghangatkan suasana.”









Polres Kediri telah melakukan olah TKP dan autopsi jenazah di RS Bhayangkara. Namun kandungan pasti dari miras tersebut masih dalam penyelidikan. Kasat Reskrim AKP Joshua Peter Krisnawan menyatakan bahwa proses hukum akan berjalan sesuai prosedur dan berbasis bukti ilmiah.

Purnomo tinggal bersama ibunya yang sudah sepuh. Deta dan Agung adalah yatim piatu yang diasuh oleh nenek mereka. Ketiganya bekerja sebagai buruh pembakaran arang, hidup dari upah harian yang tak menentu. Mereka dikenal kompak, baik dalam kerja maupun pergaulan.

“Biaya autopsi saja kami harus iuran warga. Keluarga mereka memang susah,” kata Sudaryono, menunduk.

Kini, satu korban masih dirawat. Sementara tiga jenazah telah dimakamkan, meninggalkan luka yang tak mudah sembuh.

Tragedi ini bukan sekadar soal miras oplosan. Ia adalah cerminan dari ketimpangan sosial, minimnya edukasi, dan akses hiburan yang sehat. Di tengah pesta rakyat, pilihan hiburan murah bisa berubah menjadi racun yang mematikan.

Keluarga korban berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran. Mereka meminta pemerintah menindak tegas penjual miras ilegal dan menyebarkan edukasi tentang bahaya miras oplosan, terutama di desa-desa.

“Jangan sampai ada korban lagi. Kami sudah kehilangan terlalu banyak,” ucap seorang kerabat, lirih.