Kunyit Putih, “Ramuan Naga” dari Dapur Nusantara
Bacatrend, Jakarta — Di balik tampilannya yang sederhana, kunyit putih atau Curcuma zedoaria menyimpan kekuatan luar biasa.
Dulu hanya dikenal sebagai rempah pelengkap dapur, kini tanaman herbal ini mencuri perhatian dunia medis internasional. Berbagai studi dan jurnal ilmiah mengungkap bahwa kunyit putih memiliki potensi luar biasa sebagai antikanker, antimikroba, antioksidan, hingga anti-inflamasi.
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences oleh Yujin Shin dkk., menyatakan bahwa senyawa aktif dalam kunyit putih seperti curcumin, germacrone, dan β-phellandrene, mampu menghentikan pertumbuhan sel kanker, termasuk kanker ovarium dan sarkoma.
“Aktivitas antiproliferatif dan penginduksi apoptosis pada sel tumor terlihat sangat signifikan,” tulis mereka dalam laporan itu.
Tak hanya itu, studi lokal dari Universitas IPB dan Universitas Airlangga juga memperkuat temuan tersebut.
Dalam riset yang dipublikasikan oleh Muflikha SP, kunyit putih disebut mengandung isocurcumenol dan demethoxycurcumin yang efektif sebagai penghambat pertumbuhan sel kanker.
Senyawa-senyawa ini juga ditemukan punya efek antibakteri kuat terhadap bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, hingga jamur Candida albicans.
Dalam dunia antioksidan, kunyit putih bahkan disebut-sebut menyaingi vitamin C. Sebuah studi tahun 2023 yang dipublikasikan dalam Biomedicine & Pharmacotherapy menemukan bahwa aktivitas antioksidan kunyit putih pada nilai IC₅₀ mencapai 12,39 µg/mL — lebih baik daripada kunyit kuning.
Bahkan, dalam analisis yang lebih dalam, senyawa seperti flavonoid dan minyak atsiri dalam kunyit putih disebut memiliki kemampuan menghambat mediator inflamasi layaknya obat NSAID modern.
Dari sisi keamanan, kunyit putih juga menunjukkan tingkat toksisitas yang rendah. Uji toksikologi pada embrio ikan zebrafish dan udang laut menunjukkan bahwa bahan aktif dalam kunyit putih tetap aman dikonsumsi selama dosisnya sesuai. “Kami tidak menemukan gejala toksik yang berarti hingga dosis 588 ppm,” tulis salah satu studi dari jurnal Toxicology Reports.
Dalam pengobatan tradisional Ayurveda dan pengobatan Melayu, kunyit putih telah lama digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan, peradangan, luka luar, bahkan gangguan menstruasi. Kini, dunia modern perlahan mulai mengejar kearifan lokal tersebut dengan bukti ilmiah.
Namun demikian, para peneliti mengingatkan bahwa meski banyak hasil uji laboratorium menjanjikan, studi klinis skala besar pada manusia masih sangat diperlukan.
“Kita tidak boleh gegabah menjadikannya sebagai obat utama. Perlu penelitian lanjutan, uji klinis, dan penyesuaian dosis yang terstandar,” ujar Prof. Andika Ramadhan, ahli farmakognosi dari Universitas Indonesia.
Meski belum menjadi obat resmi, kunyit putih sudah mulai dilirik produsen suplemen herbal internasional. Beberapa produk ekstrak kunyit putih kini hadir di pasaran dalam bentuk kapsul dan serbuk instan. Namun masyarakat tetap diimbau untuk berkonsultasi dengan ahli medis sebelum mengonsumsinya secara rutin.











Tinggalkan Balasan