Bacatrend, Jakarta – Di balik aroma tajam dan rasa pedasnya yang khas, lengkuas bukan sekadar bumbu dapur. Ia adalah warisan herbal Nusantara yang kini mendapat pengakuan dari dunia medis modern. Di dapur-dapur tradisional Jawa, Bali, hingga Thailand, lengkuas kerap menjadi pelengkap dalam masakan berkuah dan bersantan. Tapi di laboratorium-laboratorium kesehatan, rimpang ini sedang diuji sebagai agen penyembuh yang potensial.

Lengkuas, atau Alpinia galanga, mengandung senyawa aktif seperti galangin, gingerol, dan berbagai polifenol yang terbukti memiliki efek anti-inflamasi, antibakteri, dan bahkan antikanker. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients tahun 2016 menunjukkan bahwa galangin mampu menghambat pertumbuhan sel kanker usus besar, kulit, hati, dan payudara. Meski belum menjadi terapi utama, hasil ini membuka pintu bagi riset lanjutan yang lebih mendalam.

Di Indonesia, manfaat lengkuas juga tercatat dalam berbagai studi lokal. Salah satunya menunjukkan bahwa konsumsi ekstrak lengkuas dapat membantu meredakan nyeri sendi pada penderita osteoarthritis. Efek anti-inflamasinya bekerja mirip dengan jahe dan kunyit, dua rempah yang juga berasal dari keluarga Zingiberaceae. Tak hanya itu, lengkuas juga disebut mampu meningkatkan motilitas sperma. Sebuah studi terhadap 66 pria menunjukkan peningkatan hingga 62 persen setelah tiga bulan mengonsumsi suplemen yang mengandung lengkuas dan buah delima.

Bagi penderita diabetes dan kolesterol tinggi, lengkuas menawarkan harapan baru. Kandungan polifenolnya berperan dalam menurunkan kadar gula darah dan LDL, dua faktor risiko utama penyakit jantung. Sementara itu, sifat antibakterinya terbukti efektif melawan berbagai jenis mikroba, termasuk potensi terhadap virus corona menurut studi awal yang masih dikembangkan.









Di sisi lain, lengkuas juga dikenal sebagai karminatif—penghilang gas dalam perut. Ia membantu meredakan kembung, mual, dan gangguan pencernaan ringan. Dalam pengobatan tradisional, air rebusan lengkuas sering digunakan untuk mengatasi masuk angin dan memperkuat daya tahan tubuh. Bahkan, beberapa praktisi herbal menyebut lengkuas sebagai “tonik otak” karena kandungan antioksidannya yang melindungi sel saraf dari kerusakan akibat radikal bebas.

Namun, seperti semua bahan alami, lengkuas bukan tanpa batas. Konsumsi berlebihan bisa menyebabkan iritasi lambung atau reaksi alergi pada sebagian orang. Konsultasi dengan tenaga medis tetap disarankan, terutama jika digunakan sebagai terapi pendamping.

Di tengah tren kembali ke alam dan meningkatnya minat terhadap pengobatan tradisional, lengkuas berdiri sebagai simbol dari bagaimana pengetahuan lokal bisa bertemu dengan validasi ilmiah. Ia bukan hanya penghangat tubuh dalam semangkuk soto, tapi juga pengingat bahwa penyembuhan bisa datang dari akar yang tumbuh di halaman sendiri.

Jika dulu lengkuas hanya dikenal lewat aroma masakan, kini ia mulai dikenal lewat data laboratorium dan jurnal kesehatan. Dan mungkin, dalam waktu dekat, ia tak hanya hadir di dapur, tapi juga di meja konsultasi medis.