Teh Bunga Kamboja Kuburan Diklaim Punya Manfaat Kesehatan, Pakar Ingatkan Soal Keamanan
Bacatrend, Jakarta – Bunga kamboja atau Plumeria yang selama ini identik dengan area pemakaman, belakangan mulai dilirik sebagai bahan minuman herbal. Beberapa kalangan masyarakat mengolah kelopak bunga ini menjadi teh, yang dipercaya memberi efek menenangkan dan bermanfaat bagi kesehatan.
Sejumlah penelitian laboratorium yang dimuat dalam jurnal kesehatan internasional mengungkap bunga kamboja mengandung berbagai senyawa aktif, seperti flavonoid, terpenoid, dan iridoid. Komponen ini diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba.
Studi di beberapa universitas juga melaporkan potensi efek kardiovaskular, termasuk membantu merelaksasi pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah pada model hewan.
“Dari hasil uji preklinis, ekstrak bunga kamboja menunjukkan aktivitas antioksidan dan antibakteri yang cukup menjanjikan. Namun, bukti klinis pada manusia melalui konsumsi teh masih sangat terbatas,” tulis tim peneliti dalam tinjauan yang dipublikasikan di jurnal Molecules.
Meski demikian, para pakar mengingatkan agar konsumsi teh bunga kamboja dilakukan dengan hati-hati. Laporan dari penelitian farmakologi menyebutkan adanya potensi efek samping, mulai dari iritasi akibat getah, hingga kemungkinan aktivitas abortifacient atau merangsang keguguran pada hewan uji. Karena itu, kelompok rentan seperti ibu hamil, menyusui, dan anak-anak disarankan menghindari konsumsi.
Ahli toksikologi juga menegaskan pentingnya memastikan kebersihan bunga sebelum diseduh, mengingat risiko kontaminasi pestisida maupun polusi.
“Konsumsi dalam jumlah moderat mungkin aman bagi orang sehat, tapi tidak boleh dianggap sebagai pengganti obat medis,” ujar peneliti kesehatan herbal dari India dalam laporan yang dirilis tahun lalu.
Meski riset masih terus berjalan, minuman herbal dari bunga kamboja tetap menarik perhatian masyarakat karena aromanya yang khas dan kesan eksotis.
Pakar menilai tren ini bisa dikembangkan lebih jauh, dengan catatan diperlukan uji klinis yang lebih komprehensif untuk memastikan manfaat dan keamanannya bagi kesehatan manusia.











Tinggalkan Balasan