Bacatrend, Jakarta – Manchester United resmi memecat pelatih Ruben Amorim pada 5 Januari 2026, menambah panjang daftar kegagalan klub dalam mencari sosok yang mampu mengembalikan kejayaan pasca-Sir Alex Ferguson. Amorim menjadi pelatih ke-10 yang gagal membawa Setan Merah menjuarai Liga Inggris sejak era Ferguson berakhir pada 2013.

Amorim datang ke Old Trafford dengan reputasi sebagai pelatih muda bertalenta dari Sporting CP. Namun, masa jabatannya hanya bertahan 14 bulan. Meski sempat menunjukkan potensi, performa tim yang inkonsisten dan ketegangan internal dengan manajemen menjadi alasan utama pemecatannya. United berada di peringkat keenam klasemen saat keputusan itu diambil, jauh dari ekspektasi klub dan pendukungnya.

Kegagalan Amorim bukanlah kasus tunggal. Sejak 2013, Manchester United telah berganti pelatih sebanyak sepuluh kali, termasuk nama-nama besar seperti Louis van Gaal, José Mourinho, Ole Gunnar Solskjær, dan Erik ten Hag. Namun, tidak satu pun dari mereka berhasil membawa klub kembali ke puncak Liga Inggris. Mourinho menjadi satu-satunya pelatih yang mempersembahkan trofi Eropa, yakni Liga Europa 2017.

Masalah yang dihadapi Amorim mencerminkan krisis sistemik di tubuh Manchester United. Ia mewarisi skuad yang terbentuk dari berbagai era kepelatihan, dengan filosofi dan kebutuhan sistem yang saling bertabrakan. Bruno Fernandes tetap menjadi kapten dan pemain kunci dengan 58 penampilan, 20 gol, dan 19 assist di bawah Amorim. Namun, ketidaksesuaian antara visi pelatih dan komposisi skuad membuat pendekatan taktis Amorim sulit diterapkan secara konsisten.









Kegagalan demi kegagalan ini menunjukkan bahwa masalah Manchester United tidak lagi bisa dibaca sebagai rangkaian kesalahan individu. Klub terus berganti pelatih tanpa menyelesaikan akar persoalan: ketidakharmonisan antara struktur manajemen, filosofi sepak bola, dan pembangunan skuad. Tanpa reformasi menyeluruh, pergantian pelatih hanya akan menjadi siklus berulang yang menjauhkan klub dari kejayaan masa lalu.

Pemecatan Ruben Amorim menjadi cerminan bahwa Manchester United masih mencari arah yang jelas. Di tengah tekanan kompetisi dan ekspektasi tinggi, klub harus segera menemukan solusi jangka panjang yang tidak hanya bergantung pada figur pelatih, tetapi juga pada pembenahan sistemik di semua lini.