Oleh: Hendra Dwi Setiyawan

Bacatrend.com, LOMBOK TENGAH – Kobaran api mengubah wajah Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/2026) malam. Permukiman tradisional masyarakat Sasak dilanda kebakaran besar hingga menyisakan puing-puing bangunan pada Minggu (23/8/2026) pagi.

Laporan perkembangan penanganan menyebut 129 rumah atau bangunan menjadi basis rencana rekonstruksi Pemerintah Provinsi NTB. Sementara itu, data BPBD NTB yang dikutip ANTARA mencatat 89 rumah mengalami rusak berat. Perbedaan angka tersebut menunjukkan pendataan kerusakan dan penentuan sasaran rekonstruksi masih terus dimutakhirkan.

Kebakaran berdampak terhadap sekitar 320 jiwa atau 120 kepala keluarga (KK). Tidak ada laporan korban jiwa. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar warga, sementara Pemerintah Provinsi NTB mulai menyiapkan langkah pemulihan kawasan adat yang memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat Sasak sekaligus pariwisata budaya Lombok.









Api Membesar pada Sabtu Malam

Kebakaran diketahui terjadi sekitar pukul 22.00 WITA, Sabtu malam. Kepala Desa Rembitan, Lalu Winakse, mengatakan warga kemudian berupaya memadamkan api bersama petugas pemadam kebakaran.

Kobaran api dengan cepat menyebar di kawasan permukiman yang sebagian bangunannya mempertahankan material tradisional. Proses pemadaman dan pendinginan berlangsung hingga Minggu dini hari karena masih ditemukan bara api di sejumlah titik.

Pada laporan awal yang diterbitkan ANTARA Mataram pukul 05.06 WIB, jumlah rumah dan warga terdampak masih dalam proses pendataan. Petugas Damkartan Lombok Tengah ketika itu masih melakukan pendinginan di lokasi.

Seiring pendataan berkembang, laporan media dan pemerintah kemudian menggunakan angka 129 rumah/bangunan dalam konteks skala kerusakan dan rencana rekonstruksi.

Warga Berhamburan Menyelamatkan Diri

Cepatnya api membesar membuat warga berusaha menyelamatkan diri sekaligus mengeluarkan barang-barang yang masih dapat dijangkau.

Amaq Emi, salah seorang warga Sade, menduga api pertama kali muncul dari salah satu dapur rumah. Ia juga menyebut kemungkinan gangguan listrik.

“Mungkin dari dapur atau listriknya yang konslet sehingga api nyala,” kata Amaq Emi sebagaimana dikutip ANTARA.

Keterangan tersebut merupakan dugaan warga, bukan kesimpulan penyebab kebakaran.

Warga lainnya, Inaq Husna, mengaku sedang tidur ketika dibangunkan setelah api sudah membesar.

“Saya lagi tidur, terus dibangunin setelah api sudah besar. Saya kaget dan coba lari evakuasi diri,” ujarnya dalam laporan mengenai kebakaran tersebut.

Kesaksian warga memperlihatkan bagaimana situasi berubah cepat dari aktivitas malam menjadi kepanikan dan evakuasi.

320 Jiwa dari 120 KK Terdampak

Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, menyebut kebakaran berdampak terhadap 320 jiwa dari 120 KK.

Pemerintah daerah kemudian menempatkan kebutuhan dasar warga sebagai prioritas, termasuk makanan, kesehatan, tempat tinggal sementara, pendidikan anak-anak, dan pemulihan psikologis.

“Yang kita pikirkan hari ini tentang bagaimana menangani dampak dalam waktu dekat, trauma healing anak-anak yang bersekolah. Kemudian kebutuhan akan makan pada saat hari ini dan tiga hari ke depan, menjaga kesehatan,” ujar Lalu Pathul Bahri sebagaimana dikutip ANTARA Mataram.

Posko logistik dipusatkan di gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), sementara sebagian warga lainnya tinggal bersama keluarga. Tidak adanya laporan korban jiwa menjadi salah satu fakta penting dalam penanganan awal, tetapi skala kehilangan materiil dan dampak sosial tetap besar.

Masjid, Museum, dan Lapak UMKM Ikut Terbakar

Kebakaran tidak hanya menghancurkan rumah warga. Menurut keterangan pemerintah daerah yang dikutip ANTARA, sejumlah fasilitas di kawasan Sade seperti masjid, museum, lapak UMKM, dan fasilitas umum lainnya turut terdampak.

Kerusakan tersebut memiliki konsekuensi ekonomi karena kehidupan masyarakat Sade berkaitan erat dengan kerajinan, perdagangan, dan pariwisata budaya. Kawasan ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya Lombok, tempat wisatawan melihat kehidupan tradisional masyarakat Sasak secara langsung.

Karena itu, pemulihan Sade tidak hanya menyangkut tempat tinggal, tetapi juga bagaimana aktivitas ekonomi warga dapat kembali berjalan.

Naskah Lontar Kuno Ikut Terdampak

Dimensi kehilangan budaya menjadi perhatian lain dalam tragedi tersebut. NTBSatu melaporkan temuan sisa naskah lontar kuno di antara puing rumah warga. Marwan, warga setempat, mengatakan naskah tersebut merupakan warisan keluarga yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sebagian naskah disebut masih ditemukan, tetapi kondisinya rusak dan sulit dibaca. Salah satu naskah yang disebut dalam laporan tersebut bernama Rengganis.

Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Kebudayaan kemudian melakukan inventarisasi terhadap artefak dan unsur budaya yang terdampak.

Karena proses inventarisasi masih berjalan, Bacatrend.com tidak menyimpulkan seluruh koleksi naskah lontar atau artefak Sade telah musnah. Fakta yang dapat dipastikan pada tahap ini adalah sejumlah benda yang memiliki nilai sejarah dilaporkan terdampak dan sedang didata untuk mengetahui tingkat kerusakannya.

Material Tradisional dan Risiko Perambatan Api

Sade dikenal dengan arsitektur tradisional masyarakat Sasak yang menggunakan material seperti kayu, bambu, anyaman bambu atau bedek, serta ilalang pada bagian tertentu bangunan. Material tersebut merupakan bagian dari karakter dan identitas kawasan.

Namun, dari perspektif mitigasi bencana, material organik yang mudah terbakar dapat meningkatkan risiko ketika terjadi kebakaran, terutama jika bangunan berada dalam kawasan yang relatif rapat.

Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, turut menyoroti penggunaan ilalang pada atap bangunan.

“Terutama karena atapnya ilalang. Ini mungkin menjadi referensi ketika terjadi sesuatu, terbakar habis karena atapnya ilalang. Ke depan tentu harus dipikir lebih jauh,” kata Lalu Pathul Bahri sebagaimana dikutip ANTARA.

Pernyataan tersebut penting ditempatkan sebagai evaluasi kerentanan bangunan, bukan sebagai kesimpulan mengenai penyebab kebakaran.

Kebakaran Menjadi Alarm Mitigasi Kawasan Adat

Komunitas Lombok Heritage and Science Society (LHSS) menilai kebakaran Sade menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem perlindungan kawasan warisan budaya.

Ketua LHSS, Muhammad Ali Akbar, menyoroti kerentanan bangunan berbahan ilalang dan bambu serta pentingnya penguatan proteksi kebakaran dan pengamanan instalasi listrik. However, perlindungan kawasan adat tidak boleh dilakukan dengan menghilangkan karakter tradisionalnya.

“Fisik bangunan bisa dibangun kembali, artefak bisa kita data ulang, tetapi memori kolektif, tradisi lisan, dan keahlian menenun melekat pada manusianya,” kata Ali Akbar sebagaimana dikutip ANTARA.

Pernyataan tersebut memperluas makna tragedi Sade. Yang harus dipulihkan bukan hanya struktur bangunan, tetapi juga komunitas yang menjadi pembawa tradisi.

Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

Hingga Minggu (23/8/2026), penyebab pasti kebakaran belum ditetapkan. Dugaan mengenai dapur maupun korsleting listrik masih berasal dari keterangan awal warga.

Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan saksi untuk mengetahui titik awal serta penyebab kebakaran.

Karena itu, belum tepat menyimpulkan korsleting listrik sebagai penyebab kebakaran sebelum hasil penyelidikan resmi kepolisian diumumkan.

Pemprov NTB Siapkan Rekonstruksi

Setelah penanganan darurat, Pemerintah Provinsi NTB mulai memikirkan tahap pemulihan. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyatakan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah untuk menentukan langkah pembangunan kembali Desa Adat Sade.

“Saya akan segera berkomunikasi dengan Bupati Lombok Tengah untuk mengambil langkah cepat dan tepat. Nanti kami pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade,” kata Lalu Muhamad Iqbal pada Minggu (23/8/2026).

Dalam laporan perkembangan rekonstruksi, angka 129 rumah/bangunan digunakan sebagai basis pembangunan kembali. Sementara itu, data BPBD NTB yang dikutip ANTARA mencatat 89 rumah rusak berat.

Perbedaan angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Angka 89 merupakan pendataan tingkat kerusakan, sedangkan angka 129 digunakan dalam konteks bangunan yang menjadi sasaran rekonstruksi. Data final terpadu masih menjadi bagian penting dari tahapan pemulihan.

Tantangan Rekonstruksi: Rumah Baru, Identitas Lama

Membangun kembali Sade bukan pekerjaan sederhana. Jika rekonstruksi hanya mengejar jumlah rumah yang kembali berdiri, ada risiko aspek sosial dan budaya tidak mendapatkan perhatian yang sama.

Sade merupakan ruang hidup masyarakat Sasak. Di dalamnya terdapat aktivitas ekonomi, tradisi menenun, interaksi sosial, praktik budaya, serta arsitektur yang menjadi daya tarik wisata.

Karena itu, rekonstruksi harus menemukan titik temu antara autentisitas budaya dan keselamatan.

Rumah tradisional perlu tetap merepresentasikan identitas Sasak, tetapi kawasan juga membutuhkan sistem proteksi kebakaran yang lebih baik, termasuk pengamanan instalasi listrik, akses pemadaman, jalur evakuasi, dan kesiapsiagaan masyarakat.

Sade Setelah Api
Kebakaran Sabtu malam meninggalkan pekerjaan besar bagi pemerintah dan masyarakat.

320 jiwa dari 120 KK terdampak. Puluhan hingga lebih dari seratus bangunan menjadi bagian dari proses pendataan dan rekonstruksi. Fasilitas umum, aktivitas ekonomi, serta sejumlah benda budaya juga terdampak.

Namun, ukuran pemulihan Sade tidak seharusnya berhenti pada berapa banyak rumah yang berhasil dibangun kembali.

Ada warga yang harus kembali mendapatkan tempat tinggal. Ada keluarga yang kehilangan harta benda. Ada pelaku usaha yang harus menghidupkan kembali sumber penghasilannya. Ada artefak yang harus diinventarisasi. Dan ada tradisi yang harus tetap hidup setelah kawasan fisiknya mengalami kerusakan besar.

Sade kini berada di persimpangan antara membangun kembali dan belajar dari kebakaran.

Pembangunan kembali dapat mengembalikan atap, dinding, dan rumah. Tetapi untuk mengembalikan Sade sebagai ruang hidup masyarakat Sasak, rekonstruksi harus sekaligus memulihkan manusia, ekonomi, budaya, dan sistem keselamatan.

Api telah padam. Pekerjaan terbesar justru dimulai setelahnya: memastikan Sade dapat berdiri kembali tanpa kehilangan jati dirinya.

Sumber Data & Referensi:
1. ANTARA News Mataram, “Damkartan gabungan padamkan kebakaran rumah adat Sade di Lombok Tengah”, 23 Agustus 2026 — kronologi awal, pemadaman, dan pendataan awal.

2. ANTARA News Mataram, “Lombok Tengah fokus penanganan korban kebakaran rumah adat Sade”, 23 Agustus 2026 — data 320 jiwa/120 KK, kebutuhan dasar, pengungsian, kesehatan, pendidikan, dan trauma healing.

3. ANTARA News Mataram, “Kebakaran Sade alarm proteksi warisan budaya NTB”, 23 Agustus 2026 — aspek mitigasi, material tradisional, perlindungan warisan budaya, dan pandangan Lombok Heritage and Science Society.

4. ANTARA News Mataram, “NTB inventarisasi artefak terdampak kebakaran Kampung Adat Sade Lombok Tengah”, 23 Agustus 2026 — inventarisasi artefak dan benda budaya.

5. ANTARA News Mataram, “Desa Adat Sade, sebelum dan sesudah api”, 23 Agustus 2026 — dokumentasi visual kawasan.

6. detikTravel, “129 Rumah Adat Sade Terbakar, Pemprov NTB Janji Segera Rekonstruksi”, 23 Agustus 2026 — perkembangan angka 129 dan komitmen rekonstruksi.

7. detikNews, “Pemprov NTB Bakal Rekonstruksi 129 Rumah Desa Adat Sade yang Terbakar”, 23 Agustus 2026 — rencana rekonstruksi dan pernyataan Gubernur NTB.

8. detikBali, “Kebakaran Hebat di Desa Adat Sade Lombok, 129 Rumah Suku Sasak Ludes”, 23 Agustus 2026 — laporan skala kebakaran dan dampak warga.

9. detikBali, “Ratusan Warga Desa Adat Sade Dievakuasi ke Gedung KDMP Usai Kebakaran”, 23 Agustus 2026 — penanganan dan evakuasi warga.

10. detikNews, “Polisi Olah TKP Selidiki Penyebab Kebakaran di Desa Adat Sade Lombok”, 23 Agustus 2026 — status penyelidikan penyebab kebakaran.

11. NTBSatu, “Naskah Lontar Kuno Ikut Ludes dalam Kebakaran Rumah Adat Sade”, 23 Agustus 2026 — kesaksian mengenai naskah lontar yang terdampak.