Daycare: Penitipan Rasa Bersalah Orangtua yang Sibuk
Bacatrend, Surabaya — Daycare di Yogyakarta kini jadi sorotan, bukan karena fasilitasnya yang berwarna pastel atau mainan edukatif yang dipajang di brosur, melainkan karena tragedi yang menelanjangi kenyataan pahit: anak-anak dititipkan dengan harapan aman, tapi pulang membawa trauma. Kasus Little Aresha adalah tamparan keras bagi kota yang selama ini dielu-elukan sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan. Di balik slogan “ramah anak”, ternyata ada ruang pengasuhan yang justru melahirkan luka.
Fenomena daycare tumbuh subur karena kesibukan orangtua. Ibu bekerja, ayah sibuk, keluarga urban mencari solusi instan. Daycare pun menjamur, tapi banyak beroperasi tanpa izin resmi, tanpa pengasuh bersertifikat, dan tanpa standar keamanan. Negara hadir hanya di papan nama, bukan di ruang pengawasan. Orangtua sibuk merasa lega karena ada tempat menitipkan anak, padahal yang dititipkan bukan sekadar tubuh kecil, melainkan masa depan. Ironi ini menohok: daycare berubah menjadi penitipan rasa bersalah orangtua, bukan ruang tumbuh yang sehat.
Kasus Little Aresha membuka borok yang selama ini ditutup rapat. Polisi menetapkan belasan tersangka, sebagian besar pengasuh yang seharusnya menjadi pelindung. Pola kekerasan sistematis terungkap: anak diikat, dibentak, bahkan dipukul. Semua terjadi di tempat yang menjual kata “peduli” dan “sayang” sebagai tagline. Betapa murahnya kata “sayang” ketika dijadikan komoditas, sementara anak-anak yang seharusnya dilindungi justru diperlakukan seperti beban.
Pemerintah daerah sibuk dengan jargon “Yogyakarta ramah anak”, tapi lupa bahwa ramah bukan mural di taman kota. Ramah adalah memastikan setiap anak aman di tempat mereka dititipkan. DPRD DIY dan KemenPPPA memang sudah bersuara, menuntut audit dan pengetatan izin. Tapi suara itu akan jadi gema kosong jika tidak diikuti tindakan nyata. Sertifikasi pengasuh, inspeksi mendadak, mekanisme pengaduan publik — semua harus dijalankan, bukan sekadar wacana.
Yang lebih menyedihkan, masyarakat pun ikut bersalah. Kita sering memilih daycare berdasarkan harga murah atau ulasan media sosial, bukan izin dan kompetensi. Kita percaya pada foto anak tersenyum di brosur, tanpa tahu apa yang terjadi setelah pintu tertutup. Kesibukan orangtua membuat daycare jadi solusi praktis, tapi solusi itu bisa berubah jadi tragedi jika tidak ada kontrol.
Daycare seharusnya menjadi simbol modernitas keluarga urban — tempat anak belajar bersosialisasi, bukan tempat mereka belajar takut. Tapi di Yogyakarta, simbol itu kini berubah menjadi peringatan keras: jangan titipkan masa depan pada sistem yang tak peduli. Tragedi Little Aresha bukan akhir cerita, melainkan awal dari pertanyaan besar: berapa banyak daycare lain yang masih menyembunyikan luka di balik tawa anak-anak?
Jika kita tidak berani menuntut perubahan sekarang, maka setiap tangisan di ruang bermain akan terus menjadi musik latar dari kelalaian kita sendiri. Daycare akan tetap menjadi penitipan rasa bersalah orangtua yang sibuk — dan anak-anaklah yang membayar harga paling mahal.











Tinggalkan Balasan