Oleh: Hendra Dwi Setiyawan

Bacatrend.com, JAKARTA – Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra berpulang, Sabtu (26/9/2026). Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, serta para seniman yang pernah bertumbuh bersama dalam perjalanan panjang seni dan kebudayaan Indonesia, termasuk melalui Swara Maharddhika.
Guruh meninggal dunia pada pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun. Kabar tersebut dikonfirmasi Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Guruh merupakan putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati.

Jenazah Guruh kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, di dekat pusara ibundanya, Fatmawati. Dokumentasi ANTARA memperlihatkan keluarga dan pelayat mengantar Guruh dalam prosesi pemakaman pada Sabtu siang.

Kepergian Guruh membawa kembali ingatan para sahabat kepada ruang kreatif yang dibangunnya puluhan tahun lalu. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat Swara Maharddhika dibentuk pada 27 Maret 1977 sebagai wadah kreativitas seni generasi muda sekaligus ruang eksperimen berkesenian Guruh. Melalui kelompok itu, unsur tari tradisional Indonesia dipertemukan dengan pendekatan pertunjukan modern.









Nama Swara Maharddhika kemudian melekat pada perjalanan sejumlah seniman Indonesia. Bagi penyanyi Memes, kelompok tersebut bahkan menjadi salah satu bagian penting dari masa remajanya.

Melalui unggahan Instagram yang dikutip Detik, Memes mengenang dirinya masuk Swara Maharddhika angkatan sembilan ketika berusia sekitar 15 tahun. Ia mengatakan banyak belajar tentang tari, kesenian, budaya, musik Indonesia hingga kedisiplinan selama berada di lingkungan Guruh.

Kenangan itu juga disampaikan suaminya, komposer Addie MS. Addie mengenang Guruh bukan sekadar karena kemampuan musikalnya, tetapi juga karena kuatnya perhatian terhadap identitas Indonesia.

“Guruh itu bukan hanya saya kagumi karena musikalitasnya, tapi juga karena jiwa Indonesianya,” kata Addie MS dalam tayangan Metro TV, Sabtu (26/9/2026).

Menurut Addie, perhatian tersebut tercermin melalui musik, batik, adab, serta berbagai unsur budaya yang terus didorong Guruh dalam karya dan kehidupan berkesenian. Addie juga mengenang kepercayaan yang pernah diberikan Guruh kepadanya ketika dirinya masih duduk di bangku kelas tiga SMA.

Memes menambahkan bahwa proses bersama Guruh tidak berhenti pada latihan tari. Para anggota juga belajar mengenai organisasi, disiplin, tata busana hingga bagaimana membawa budaya Indonesia dalam sebuah pertunjukan.

Kenangan dari Sahabat hingga Rekan Seni

Sisi lain Guruh dikenang penyanyi Thomas Djorghi, yang pernah tinggal di kediamannya. Thomas mengatakan Guruh memiliki kegemaran membaca dan menyimpan banyak buku. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu kenangan personal yang paling membekas baginya.

Thomas juga pernah kembali bersentuhan dengan karya Guruh saat merilis ulang lagu “Marlina” pada 2023, lagu ciptaan Guruh yang sebelumnya dikenal melalui Chrisye.

Sementara itu, Surya Paloh mengenang Guruh sebagai sahabat yang mudah bergaul sekaligus memiliki talenta kuat di bidang seni dan kebudayaan. Menurut Surya, kiprah Guruh melalui Swara Maharddhika melahirkan berbagai kreativitas seni. Pernyataan tersebut disampaikannya ketika mengenang hubungan panjang mereka setelah kabar duka Guruh.

Kenangan serupa muncul dalam prosesi pelepasan. Rano Karno, yang mewakili keluarga besar Soekarno, menggambarkan kecintaan Guruh terhadap Indonesia sebagai sesuatu yang disampaikan melalui karya, bukan sekadar kata-kata.

“Mas Guruh adalah seseorang yang tak pernah letih mencintai Indonesia,” ujar Rano saat memberikan sambutan perpisahan.

Menurut Rano, Guruh menerjemahkan kecintaannya kepada Tanah Air melalui lagu, tarian, warna, serta panggung pertunjukan. Ia juga menggambarkan karya sebagai salah satu warisan yang tetap dapat hidup meski penciptanya telah tiada.

Jejak Seni yang Panjang

Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953. Selain dikenal melalui Swara Maharddhika, perjalanan seninya membentang dari musik, tari, koreografi hingga produksi pertunjukan. Karya yang terkait dengan namanya antara lain proyek Guruh Gipsy, “Renjana”, “Melati Suci” dan “Zamrud Khatulistiwa”.

Dalam catatan ANRI, Swara Maharddhika menjadi ruang bagi Guruh untuk menggabungkan tradisi dengan bentuk pertunjukan yang lebih modern. Pada 1979, kelompok itu menggelar Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra pertama, dengan Guruh terlibat sebagai koreografer, komposer sekaligus sutradara.

Di luar dunia seni, Guruh juga menjalani perjalanan politik melalui PDI dan kemudian PDI Perjuangan serta pernah menjadi anggota DPR RI. Dalam berbagai periode di parlemen, aktivitasnya turut bersinggungan dengan bidang pendidikan dan kebudayaan.

Namun, pada hari kepergiannya, kenangan yang muncul dari orang-orang terdekat justru banyak kembali kepada panggung, latihan, persahabatan dan nilai budaya yang pernah dibangun bersama.

Dari Memes yang mengenangnya sebagai tempat belajar sejak remaja, Addie MS yang mengingat kuatnya “jiwa Indonesia” dalam diri Guruh, hingga Thomas Djorghi yang mengenang kegemarannya membaca, perjalanan Guruh tersimpan bukan hanya melalui karya yang pernah dipentaskan.

Swara Maharddhika menjadi salah satu jejak dari perjalanan itu ruang tempat seni, disiplin, persahabatan dan kecintaan terhadap kebudayaan Indonesia pernah tumbuh bersama.

Sumber Data Referensi

  1. ANTARA News – Laily Rahmawaty – “Guruh Soekarnoputra Wafat Sabtu Pagi di Usia 73 Tahun”, 26 September 2026.
  2. ANTARA Foto – Muhammad Iqbal – “Begini Suasana Pemakaman Jenazah Guruh Soekarnoputra”, 26 September 2026.
  3. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) – Inventaris Arsip Tekstual Guruh Sukarno Putra 1973–1990 – rujukan sejarah pembentukan dan perkembangan Swara Maharddhika.
  4. ANTARA News – Maria Rosari Dwi Putri – “Dedikasi Seni dan Warisan Guruh untuk Kebudayaan Indonesia”, 26 September 2026.
  5. ANTARA News – Abdu Faisal – “Thomas Djorghi Kenang Guruh Soekarnoputra yang Senang Membaca”, 26 September 2026.
  6. Metro TV – “Guruh Soekarnoputra Wafat, Addie MS Kenang Sosok yang Dikaguminya”, 26 September 2026.
  7. DetikHot – Mauludi Rismoyo – “Jasa Guruh Soekarnoputra Buat Karier Nyanyi Memes”, 26 September 2026.
  8. BeritaSatu – “Memes Dapat Banyak Pelajaran Seni dan Disiplin dari Guruh Sukarnoputra”, 26 September 2026.
  9. Suara.com – Muhamad Yasir dan Adiyoga Priyambodo – “Wakili Keluarga di Pemakaman Guruh Soekarnoputra, Rano Karno: Mas Guruh Cinta Indonesia Tanpa Gaduh”, 26 September 2026.
  10. Liputan6.com – Winda Nelfira – “Surya Paloh Kenang Guruh Soekarnoputra sebagai Adik Sekaligus Sahabat”, 26 September 2026.