Bacatrend, Surabaya – Surabaya kembali menorehkan prestasi global. Kota Pahlawan ini berhasil masuk dalam jajaran 50 finalis ajang internasional Mayors Challenge ke-6 yang digelar oleh Bloomberg Philanthropies, mengungguli lebih dari 600 proposal dari berbagai penjuru dunia.

Kompetisi bergengsi ini bertujuan mendorong pemerintah kota berinovasi demi meningkatkan kualitas hidup warganya. Surabaya melangkah ke garis terdepan dengan gagasan unik yang tak hanya menyentuh persoalan sanitasi, tetapi juga menyasar ekonomi lokal: pemanfaatan popok kain pakai ulang sebagai solusi pengelolaan limbah sekali pakai.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa fokus utama dari gagasan ini adalah mengurangi pencemaran sungai dan beban sampah di TPA. Ia menegaskan, plastik dan popok sekali pakai merupakan ancaman besar bagi lingkungan, terutama bagi sungai Brantas dan Kalimas—sumber utama air baku kota ini.

“Upaya ini lebih dari sekadar mengganti popok. Ini soal menjaga sungai tetap bersih, meningkatkan kesehatan warga, dan membuka ruang kerja bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Eri, Rabu (25/6/2025).

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih sadar lingkungan, mengurangi penggunaan bahan-bahan sekali pakai, dan tidak membuang limbah ke badan sungai.









Dari total 630 proposal yang diajukan oleh pemerintah kota dari 33 negara, proposal Surabaya dinilai menonjol karena bersifat aplikatif dan memberdayakan masyarakat. James Anderson dari Bloomberg Philanthropies menjelaskan bahwa proyek-proyek terpilih dinilai dari sisi orisinalitas, dampak potensial, dan rencana implementasi yang realistis.

James menambahkan, satu hal yang menonjol dari inisiatif Surabaya adalah keberanian menyelesaikan masalah besar dengan pendekatan lokal: menggandeng produsen lokal popok kain berkualitas dan mengintegrasikannya dengan edukasi masyarakat tentang sanitasi. Pendekatan ini dinilai mampu mengubah ancaman lingkungan menjadi peluang pembangunan berkelanjutan.

Sebagai finalis, Surabaya akan menerima dana hibah sebesar USD 50.000 untuk mewujudkan prototipe proyek. Tak hanya itu, tim Pemkot juga akan mengikuti program Ideas Camp pada Juli 2025—sebuah forum intensif bersama para pakar global dan finalis lain untuk mengasah ide sebelum seleksi tahap akhir.

Jika lolos ke tahap selanjutnya, pada Januari 2026 Surabaya berpotensi mengantongi hibah lanjutan senilai USD 1 juta, serta pendampingan intensif untuk realisasi penuh program.

Dedik Irianto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, menegaskan bahwa popok sekali pakai tidak bisa didaur ulang dan sering kali mencemari sungai dengan bahan-bahan berbahaya. Menurutnya, langkah paling efektif adalah mencegah dari hulunya—dengan mengubah perilaku konsumsi dan menyediakan alternatif yang ramah lingkungan.

Surabaya tak sendirian. Di antara 50 finalis lain, terdapat kota-kota seperti Barcelona, Budapest, Cape Town, Fukuoka, San Francisco, hingga Medellín. Namun yang membuat Surabaya bersinar adalah keberaniannya memulai perubahan besar dari benda kecil yang kerap diabaikan: popok.