Bacatrend, PATI — Sebuah video yang memperlihatkan Bupati Pati, Sudewo, menantang rakyatnya untuk melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran viral di media sosial.

Pernyataan itu muncul di tengah gelombang protes warga atas kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen.

Dalam rekaman yang diunggah oleh akun Instagram @flokjog dan @pati.24jam, Sudewo menyampaikan pernyataan yang dinilai menantang dan tidak biasa bagi seorang kepala daerah.

“Siapa yang akan melakukan penolakan, saya tunggu. Silakan lakukan. Jangan hanya 5.000 orang, 50.000 orang aja suruh ngerahkan, saya tidak akan gentar. Saya tidak akan mengubah keputusan,” ujar Sudewo dalam video tersebut.









Kebijakan kenaikan PBB-P2 ini disebut Sudewo sebagai langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan daerah. Ia menyebutkan bahwa selama 14 tahun, tarif PBB di Kabupaten Pati tidak pernah mengalami kenaikan.

Saat ini, pendapatan dari sektor tersebut hanya mencapai Rp 29 miliar, jauh tertinggal dari daerah tetangga seperti Jepara (Rp 75 miliar), Rembang dan Kudus (masing-masing Rp 50 miliar).

Namun, warga menilai kenaikan hingga 250 persen terlalu drastis dan membebani masyarakat kecil. Protes pun bermunculan, baik secara daring maupun langsung di lapangan.

Posko Perlawanan dan Aksi Simbolik
Sejak 1 Agustus, komunitas Masyarakat Pati Bersatu mendirikan posko donasi logistik di Alun-Alun Pati sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan tersebut. Mereka menolak menerima donasi uang tunai demi menjaga independensi gerakan.

Tak hanya itu, warga juga menyiapkan aksi simbolik berupa telur dan tomat busuk yang rencananya akan diserahkan kepada Sudewo sebagai bentuk kekecewaan. Aksi unjuk rasa besar-besaran dijadwalkan berlangsung pada 13 Agustus 2025, dengan target peserta mencapai 15.000 hingga 50.000 orang.

Ketegangan Meningkat
Pernyataan Sudewo yang menantang justru memperkeruh suasana. Banyak pihak menilai gaya komunikasinya tidak mencerminkan semangat demokrasi dan partisipasi publik. Di sisi lain, gerakan warga menunjukkan solidaritas dan kreativitas dalam menyuarakan aspirasi mereka.

Situasi ini menjadi ujian bagi kepemimpinan Sudewo dan ketahanan masyarakat sipil di Pati. Apakah suara rakyat akan mampu mengubah arah kebijakan, atau justru memperkuat posisi sang bupati?