Bacatrend, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto memerintahkan percepatan transisi energi dari fosil menuju energi baru terbarukan (EBT), dengan fokus pada tenaga surya.

Instruksi ini disampaikan langsung kepada Satuan Tugas Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (Satgas EBTKE) yang dipimpin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Perintah tersebut muncul di tengah ancaman krisis minyak global akibat ketegangan di kawasan Asia Barat/Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.

“Itu salah satu yang juga kita bicarakan bahwa harus ada alternatif-alternatif apa yang akan dipakai ketika Selat Hormuz kondisinya masih seperti ini,” kata Bahlil.









Dalam rapat perdana Satgas EBTKE yang diikuti delapan menteri, jajaran Kementerian ESDM, dan pimpinan PT PLN, Bahlil melaporkan rencana penghentian sejumlah pembangkit listrik tenaga fosil.

Pembangkit yang akan dihentikan antara lain PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) dan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang masih menggunakan bahan bakar solar.

Langkah ini sejalan dengan komitmen Indonesia menurunkan emisi karbon sesuai target Nationally Determined Contribution (NDC). Sektor energi diketahui menjadi penyumbang emisi terbesar, sehingga penghentian PLTD dan PLTU berbahan bakar fosil dinilai strategis.

Selain itu, Indonesia memiliki potensi besar energi surya, panas bumi, dan biomassa. Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga puluhan gigawatt dalam dekade mendatang.

Dengan diversifikasi energi, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Satgas EBTKE ditargetkan mulai mengeksekusi program transisi segera setelah Hari Raya Idulfitri pekan depan. Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar teknis, melainkan strategi nasional menghadapi krisis energi global dan komitmen lingkungan.