Ribuan Ibu-Ibu Berebut Suvenir di Tradisi Brayakan Maulid Nabi Surabaya
Bacatrend, Surabaya — Suasana riuh dan penuh tawa mewarnai Convention Hall Arief Rahman Hakim, Kamis siang, saat lebih dari 1.400 ibu-ibu dari Tim Penggerak PKK se-Kota Surabaya berkumpul dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah.
Tradisi “brayakan” yang digelar Pemerintah Kota Surabaya ini berubah menjadi ajang seru-seruan ketika ribuan suvenir rumah tangga digantung di atas kepala peserta dan diperebutkan dengan semangat.
Gelas plastik, sutil, rantang, hingga keranjang menjadi incaran para ibu yang berlomba mengambil buah tangan tersebut. Teriakan kecil, tawa lepas, dan sorak-sorai membuat suasana semakin meriah. “Serasa rebutan hadiah di pasar malam, tapi ini lebih ramai dan penuh kebersamaan,” ujar salah satu peserta dari Kecamatan Tambaksari.
Tradisi brayakan sendiri merupakan bentuk syukur dan kebersamaan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain makan bersama, acara ini juga menjadi momen berbagi kebutuhan rumah tangga sebagai simbol kepedulian sosial.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, dalam sambutannya menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar mengenang hari lahir Rasulullah, tetapi juga momentum untuk meneladani nilai-nilai perjuangan dan kepedulian terhadap sesama. “Maulid ini harus jadi pengingat bahwa kita hidup berdampingan, saling bantu, dan menekan kesenjangan sosial,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan semangat berbagi dengan program sosial Pemkot Surabaya, seperti “satu keluarga miskin, satu sarjana” dan bantuan pendidikan untuk siswa SMA dari keluarga kurang mampu. “Kami ingin memastikan tidak ada anak Surabaya yang tertinggal dalam pendidikan karena alasan ekonomi,” tambahnya.
Ketua TP-PKK Surabaya, Rini Indriyani, turut menyampaikan apresiasinya atas antusiasme para ibu. Ia berharap semangat yang ditunjukkan dalam acara ini bisa menjadi energi baru bagi para perempuan dalam menjalankan peran penting di keluarga dan masyarakat. “PKK adalah ujung tombak pembangunan sosial. Dengan semangat ibu-ibu, Kampung Pancasila bisa benar-benar hidup,” tuturnya.
Acara ditutup dengan penampilan seni tradisional seperti banjari, angklung, dan kulintang, menambah nuansa budaya yang kental dalam perayaan penuh semangat dan kebersamaan ini.











Tinggalkan Balasan