Surabaya Deklarasikan Perlindungan Pelajar dari Ancaman Digital
Bacatrend, Surabaya – Memperingati Hari Anak Internasional, Pemerintah Kota Surabaya menegaskan komitmen untuk melindungi generasi muda dari paparan konten digital berbahaya. Wali Kota Eri Cahyadi menyoroti khususnya ancaman game daring yang sarat unsur kekerasan dan berpotensi merusak mental anak-anak.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Deklarasi Anak Surabaya Digital Aman serta penandatanganan Tri Darma Digital. Agenda ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari BNN, kepolisian, Komnas Perlindungan Anak, hingga NGO, dengan fokus pada pengawasan penggunaan media digital di kalangan pelajar.
Eri menilai sejumlah permainan daring berbahaya karena secara halus menanamkan perilaku negatif, mulai dari simulasi perampokan hingga penyalahgunaan zat terlarang. “Game yang berbau kekerasan bisa membentuk karakter anak ke arah yang tidak baik. Tanpa disadari, mereka membenarkan tindakan negatif dalam pikiran,” tegasnya.
Ia menambahkan, perlindungan tidak hanya menyasar siswa SMP, tetapi juga SD. Peran orang tua disebut krusial dalam menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan interaksi sosial. “Lingkungan yang suportif penting agar anak tumbuh dengan mental kuat. Anak yang kurang bergaul sering kali minder dan sulit menyampaikan pendapat,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot melalui Dinas Pendidikan meminta sekolah aktif membentuk lingkungan sosial yang sehat. Selain itu, dibentuk Satgas sekolah yang terdiri dari guru BK untuk memantau perilaku siswa.
Kepala Dispendik Surabaya, Yusuf Masruh, menegaskan pembentukan Satgas merupakan penguatan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPKS). “Semakin banyak ruang curhat bagi anak, semakin baik. Tujuannya agar mereka punya wadah yang tepat untuk menyampaikan isi hati,” jelasnya.
Yusuf juga menekankan pentingnya sinergi sekolah dan orang tua. Ia mendorong orang tua mengatur waktu anak untuk belajar, istirahat, dan berekspresi secara sehat. “Saat ini sudah banyak referensi game positif dan buku elektronik edukatif. Itu yang harus diarahkan kepada anak-anak,” pungkasnya.











Tinggalkan Balasan