Bacatrend, Surabaya – Mahasiswa Departemen Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Hartaji Ramzani, merancang interior panti asuhan berbasis open-ended play environment atau lingkungan bermain terbuka untuk membantu menstimulasi kreativitas dan kemandirian anak usia dini.

Rancangan tersebut mengambil studi kasus Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Balita Tunas Bangsa di Jakarta. Gagasan itu berangkat dari pengamatan Hartaji terhadap keterbatasan jumlah pengasuh dibandingkan dengan anak yang membutuhkan pendampingan.

Mahasiswa yang akrab disapa Aji tersebut menyebut satu pengasuh di panti itu mendampingi sekitar enam anak. Dalam perancangannya, ia menggunakan rasio satu pengasuh untuk empat anak sebagai acuan kondisi ideal.

“Kondisi ini berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif anak,” kata Aji dalam keterangan resmi ITS, Kamis, 30 Juli 2026.









Untuk mendukung aktivitas anak di tengah keterbatasan pendampingan, Aji menawarkan konsep ruang yang memungkinkan mereka bermain, bereksplorasi, dan menggunakan fasilitas secara lebih mandiri.

Permainan Tidak Dibatasi Satu Cara

Konsep open-ended play environment memberi kesempatan kepada anak untuk memainkan benda dan memanfaatkan ruang melalui beragam cara tanpa dibatasi aturan permainan yang terlalu kaku.

Penerapannya antara lain berupa pegboard toy atau papan permainan berlubang pada dinding. Aji juga merancang furnitur fleksibel yang dapat dipindahkan, disusun, dan ditumpuk sesuai kebutuhan aktivitas anak.

“Ruang ini mengajak anak belajar mandiri melalui pengalaman bermain,” ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, rancangan diarahkan untuk mendukung tiga indikator kreativitas anak, yakni keterbukaan terhadap pengalaman atau openness, kemampuan kreatif atau creative abilities, dan kemandirian atau independence.

Ketiga aspek itu diwujudkan melalui penyediaan area eksplorasi, sarana bermain imajinatif yang dapat digunakan untuk berbagai fungsi, serta penataan perabot yang tidak membatasi anak pada satu pola permainan.

“Ketiga indikator tersebut dapat dilatih secara alamiah melalui pendekatan desain interior,” tutur mahasiswa angkatan 2022 tersebut.

Meski demikian, desain ruang tersebut tidak diposisikan sebagai pengganti peran pengasuh. Rancangan ini menjadi sarana pendukung agar anak tetap memperoleh kesempatan bermain, berimajinasi, dan mengambil keputusan sederhana dalam aktivitas sehari-hari.

Utamakan Keamanan Balita

Selain fungsi bermain, aspek keselamatan menjadi perhatian dalam rancangan tersebut. Aji menerapkan pola segitiga dan belah ketupat yang merepresentasikan bentuk atap rumah untuk menciptakan suasana ruang yang akrab bagi anak.

Setiap sudut perabot dibuat tumpul guna mengurangi risiko benturan. Ketinggian furnitur juga dibatasi maksimal satu meter agar lebih mudah dijangkau dan digunakan oleh balita.

Warna-warna lembut, seperti hijau dan merah muda, dipilih menyesuaikan karakter serta tingkat aktivitas motorik di setiap ruangan. Pemilihan warna itu ditujukan untuk membangun suasana yang nyaman sekaligus mendukung fungsi ruang.

Rancangan tersebut dikembangkan di bawah bimbingan dosen Departemen Desain Interior ITS, Ajeng Kusumadewi Putri Jatmiko dan Yaritsa Husni Sabiela.

Proses pembimbingan diarahkan agar desain tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga inklusif, nyaman, dan memprioritaskan keselamatan penggunanya.

Ditampilkan dalam Pameran Tugas Akhir

Karya tersebut ditampilkan dalam pameran Tugas Akhir Departemen Desain Interior ITS. Berdasarkan informasi yang tersedia, rancangan itu masih berupa konsep desain dan belum disebut telah diterapkan secara penuh di PSAA Balita Tunas Bangsa.

Karena itu, manfaatnya terhadap perkembangan kreativitas, kemandirian, dan kemampuan kognitif anak belum dapat disebut sebagai hasil yang telah terukur. Penerapan langsung serta evaluasi bersama pengelola panti, pengasuh, dan tenaga profesional tetap diperlukan untuk menguji efektivitas rancangan.

Aji menilai konsep tersebut selaras dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera, tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas, serta tujuan ke-10 tentang pengurangan kesenjangan.

Keselarasan itu tercermin melalui upaya menghadirkan ruang yang aman, mendukung pembelajaran sejak dini, dan memberikan kesempatan tumbuh yang lebih setara kepada anak-anak yang tinggal di panti asuhan.

“Semoga perancangan ini dapat menjadi referensi solutif bagi pengelola panti asuhan,” kata Aji.

Rancangan tersebut menunjukkan bahwa desain interior tidak hanya berkaitan dengan estetika. Penataan ruang juga dapat diarahkan untuk membantu menjawab persoalan sosial, selama dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna, keselamatan, serta evaluasi yang memadai.