Bacatrend, SURABAYA — Raut haru dan bahagia menyelimuti wajah pasangan Subakdo Wulandoro (56) dan Ely Woro Wijayanti (50), jemaah haji asal Kota Madiun, saat mereka akhirnya dapat menunaikan ibadah haji tahun ini bersama dua anak tercinta: Rizal Muhammad (24) dan Zahra Najla Rasyida (23). Perjalanan spiritual yang semula diprediksi akan dijalani secara terpisah, justru membawa kejutan tak terduga: seluruh keluarga berangkat bersama dalam satu kloter.

“Kami mendaftar lebih dulu di tahun 2012. Anak-anak menyusul didaftarkan pada 2016,” kenang Ely saat ditemui di Asrama Haji Surabaya, Jumat (27/6). Ia mengaku, sejak awal tak pernah membayangkan bisa menunaikan rukun Islam kelima secara serentak, mengingat panjangnya waktu tunggu yang berbeda di antara mereka.

Rencananya, Ely dan suami akan berangkat pada 2022. Namun, pandemi COVID-19 menunda keberangkatan hingga tahun ini. Sementara, kedua anak mereka dijadwalkan menunaikan haji pada 2039. Harapan untuk berhaji bersama sempat menguap, hingga suatu hari, saat mengurus dokumen di Kantor Kemenag Kota Madiun pada Oktober lalu, perbincangan ringan dengan petugas membuka jalan tak terduga.

“Awalnya saya hanya berkonsultasi soal teknis ibadah. Ternyata, saya diberi informasi soal program penggabungan mahram,” ujar Ely.









Program ini memungkinkan anggota keluarga inti—seperti pasangan suami istri, orang tua dan anak, atau saudara kandung—yang memiliki porsi haji berbeda, untuk disatukan dalam satu kloter, asalkan memenuhi persyaratan administrasi yang berlaku. Di antaranya: memiliki hubungan kekeluargaan sah dengan dokumen pendukung, status pelunasan biaya haji sudah rampung, serta nomor porsi anak sudah dimiliki sebelum batas waktu tertentu.

Merasa bahwa anak-anaknya sudah memenuhi ketentuan, Ely dan suami segera mengajukan permohonan. Prosesnya berlangsung mulus, dan mereka resmi diberangkatkan sebagai keluarga utuh.

“Ini benar-benar anugerah. Rasanya luar biasa bisa menapakkan kaki di Tanah Suci bersama suami dan anak-anak,” ungkap Ely, tak kuasa menyembunyikan keharuan.

Meski anak-anaknya tidak tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), mereka tetap mengikuti manasik haji susulan sebagai persiapan keberangkatan. Ely, yang bersama suaminya bekerja sebagai PNS, berharap kisah mereka dapat menjadi inspirasi bagi keluarga lain.

“Tak ada salahnya mendaftarkan anak-anak sejak dini. Siapa tahu suatu hari Allah memberi jalan seperti kami: berangkat haji sekeluarga,” ujarnya, penuh keyakinan.

Sementara itu, sang putra, Rizal Muhammad, menyebut pengalaman ini sebagai momen tak tergantikan.

“Alhamdulillah, bisa berhaji di usia muda dan bersama keluarga. Mungkin ini sekali seumur hidup,” kata Rizal, tersenyum bahagia.

Dengan semangat dan kondisi fisik yang prima, Rizal berharap seluruh anggota keluarganya dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan lancar.

“Semoga kami semua menjadi haji yang mabrur,” tutupnya.