Abu Nawas dan Angin dalam Kantong
CeritaNgeTrend – Pada suatu pagi di Baghdad, kota yang selalu hidup sejak ayam pertama berkokok, Raja Harun al‑Rasyid duduk di singgasananya dengan perasaan jenuh. Para menteri sibuk dengan laporan, para pengawal berdiri kaku, dan suasana istana terasa terlalu tenang untuk ukuran seorang khalifah yang terkenal gemar menguji kecerdasan rakyatnya.
“Sudah lama aku tidak melihat kelicikan Abu Nawas,” gumam sang raja sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya pada lengan kursi. “Mungkin sudah saatnya aku memberinya tugas yang membuatnya pusing tujuh keliling.”
Ia memanggil pengawal. “Bawa Abu Nawas ke hadapanku.”
Tak lama kemudian, Abu Nawas datang dengan langkah santai, seolah ia baru saja pulang dari pasar, bukan dipanggil oleh penguasa tertinggi negeri. Ia membungkuk hormat, tetapi sorot matanya yang jenaka membuat sang raja semakin yakin bahwa ia harus memberi tantangan yang benar-benar sulit.
“Abu Nawas,” kata Harun al‑Rasyid, “aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”
“Dengan senang hati, Tuanku,” jawab Abu Nawas. “Selama hamba tidak diminta mengangkat istana ini dengan satu tangan.”
Raja tersenyum tipis. “Tidak. Aku hanya ingin kau menangkap angin dan membawanya ke hadapanku besok pagi. Simpan angin itu dalam sebuah kantong. Jangan sampai bocor.”
Para menteri menahan tawa. Sebagian lagi menahan napas. Perintah itu mustahil. Tapi Abu Nawas hanya mengangguk pelan, seolah tugas itu sama mudahnya dengan membeli roti.
“Baik, Tuanku. Besok pagi hamba datang membawa angin yang paduka minta.”
Malam itu, Abu Nawas duduk di depan rumahnya sambil memandangi langit Baghdad. Ia tidak gelisah. Ia tahu bahwa raja tidak benar-benar ingin melihat angin. Yang ingin dilihat raja adalah akal. Dan akal itulah yang akan ia gunakan.
Ia mengambil sebuah kantong kulit besar, meniupnya hingga mengembang, lalu mengikatnya rapat. Ia tersenyum puas. “Angin sudah tertangkap,” katanya pada dirinya sendiri.
Keesokan paginya, Abu Nawas datang ke istana sambil memanggul kantong besar itu. Ia membawanya dengan susah payah, seolah kantong itu berisi batu-batu besar.
Raja menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. “Mana angin yang kau tangkap itu?”
Abu Nawas meletakkan kantong itu di depan raja. “Ada di dalam sini, Tuanku. Tetapi sebelum paduka membukanya, hamba mohon agar semua pintu dan jendela ditutup rapat.”
“Untuk apa?” tanya raja.
“Jika angin keluar, ia bisa kabur. Hamba tidak ingin angin yang paduka minta hilang begitu saja.”
Raja tertawa kecil, tetapi ia tetap memerintahkan pengawal menutup semua pintu dan jendela. Setelah semuanya rapat, ia berkata, “Baiklah, buka kantong itu.”
Abu Nawas membuka ikatan kantong itu perlahan-lahan. Begitu terbuka, tentu saja tidak ada apa-apa di dalamnya.
“Itu anginnya, Tuanku,” kata Abu Nawas dengan wajah serius. “Angin tidak bisa dilihat, tetapi bisa dirasakan. Jika paduka ingin membuktikannya, dekatkan wajah paduka ke kantong ini.”
Raja mendekat. Abu Nawas menekan kantong itu sehingga udara di dalamnya keluar dan mengenai wajah sang raja.
“Ah!” seru raja sambil mundur. “Benar, aku merasakannya.”
Para menteri terdiam. Mereka tidak tahu apakah harus tertawa atau kagum.
Raja akhirnya tertawa keras. “Abu Nawas, kau memang tidak pernah kehabisan akal. Aku memberimu tugas mustahil, tetapi kau menjawabnya dengan kecerdikan.”
Abu Nawas membungkuk hormat. “Hamba hanya melakukan apa yang paduka perintahkan.”
Raja mengangguk puas. “Baiklah, Abu Nawas. Kau menang kali ini. Tapi bersiaplah. Aku akan mengujimu lagi.”
Abu Nawas tersenyum. “Hamba menunggu, Tuanku. Selama paduka tidak menyuruh hamba menangkap bayangan paduka sendiri.”
Raja tertawa lebih keras lagi. “Keluar kau, sebelum aku benar-benar menyuruhmu melakukan itu!”
Abu Nawas pun keluar dari istana dengan langkah ringan, meninggalkan para menteri yang masih menggeleng-gelengkan kepala. Di luar, angin Baghdad berhembus lembut, seolah ikut tertawa bersama kecerdikan sang pujangga.












Tinggalkan Balasan