Abu Nawas dan Hukuman Tidur di Atas Menara
CeritaNgeTrend – Pada suatu hari, Raja Harun Al-Rasyid merasa jengkel dengan ulah Abu Nawas yang sering mengelabui orang-orang istana. Sang Raja ingin memberi pelajaran.
“Abu Nawas,” kata Raja, “aku ingin melihat apakah engkau masih bisa lolos dari hukuman kali ini. Engkau harus tidur semalaman di puncak menara masjid istana, tanpa selimut dan tanpa api penghangat. Jika engkau berhasil, aku akan memberi hadiah besar. Jika gagal, engkau akan dihukum berat.”
Semua orang yakin Abu Nawas akan kedinginan dan menyerah. Namun Abu Nawas hanya tersenyum, “Baik, Tuanku. Hamba terima tantangan itu.”
Malam di atas menara
Saat malam tiba, Abu Nawas naik ke puncak menara. Angin dingin menusuk tulang, bintang berkelip di langit. Dari kejauhan ia melihat lampu-lampu rumah penduduk yang hangat.
Di bawah menara, beberapa prajurit ditugaskan mengawasi. Mereka melihat Abu Nawas menggigil, tapi tetap bertahan. Keesokan paginya, ia dipanggil ke hadapan Raja.
“Apakah engkau benar-benar tidur semalaman di atas menara?” tanya Raja.
“Benar, Tuanku,” jawab Abu Nawas.
Namun seorang prajurit melapor, “Paduka, Abu Nawas menyalakan api kecil dari lentera di kejauhan. Ia memandanginya semalaman agar merasa hangat. Itu berarti ia curang.”
Raja pun marah. “Abu Nawas! Engkau harus dihukum karena berbohong!”
Akal Abu Nawas
Abu Nawas tidak panik. Ia malah menunduk hormat, lalu berkata, “Tuanku, jika hanya melihat api dari kejauhan sudah dianggap mendapat kehangatan, izinkan hamba membuktikan sesuatu di hadapan paduka.”
Raja yang penasaran mengizinkan. Abu Nawas lalu meminta sebuah panci berisi beras dan air. Ia menaruh panci itu di atas menara, lalu menyalakan api lilin kecil beberapa meter jauhnya.
“Hamba sedang memasak nasi dengan api itu, Tuanku,” kata Abu Nawas.
Raja terkejut. “Mustahil api sejauh itu bisa memasak nasi!”
“Benar sekali, Tuanku,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum. “Sama mustahilnya api sejauh itu menghangatkan tubuh hamba semalam. Jadi, tuduhan bahwa hamba curang tidak benar.”
Raja terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak. “Abu Nawas, engkau memang tak pernah kehabisan akal. Baiklah, engkau menang kali ini. Aku akan menepati janji dan memberimu hadiah.”
Hikmah cerita
Dari kejadian itu, rakyat semakin kagum pada kecerdikan Abu Nawas. Ia bukan hanya selamat dari hukuman, tetapi juga berhasil mengajarkan pelajaran berharga: jangan mudah menuduh tanpa logika, dan selalu ada cara cerdas untuk membalikkan keadaan.











Tinggalkan Balasan