Abu Nawas dan Kambing yang Bisa Membaca
Cerita NgeTrend – Suatu pagi yang cerah di istana Baghdad, Raja Harun Al-Rasyid duduk termenung di singgasananya. Ia baru saja membaca sebuah kitab filsafat yang menyebut bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa membaca dan memahami ilmu. Sang Raja, yang terkenal suka tantangan, langsung merasa tergelitik.
“Apakah benar hanya manusia yang bisa membaca?” gumamnya. “Kalau begitu, aku ingin membuktikan sebaliknya!”
Ia pun memanggil seluruh penasihat istana, termasuk Abu Nawas, si pujangga nyentrik yang terkenal cerdik dan tak pernah kehabisan akal.
“Abu Nawas,” kata Raja, “Aku ingin melihat hewan yang bisa membaca. Bawakan padaku satu ekor hewan yang bisa membaca kitab suci.”
Para penasihat lain langsung pucat. Mana mungkin ada hewan bisa membaca? Tapi Abu Nawas, seperti biasa, tersenyum santai.
“Tuanku,” katanya, “Saya punya seekor kambing yang sangat saleh. Ia tidak hanya bisa membaca, tapi juga hafal isi kitab suci.”
Raja terbelalak. “Benarkah? Kalau begitu, bawa kemari kambingmu besok pagi. Aku akan mengujinya langsung.”
Abu Nawas pun pulang dengan senyum lebar. Ia tahu, tantangan ini bukan soal kambing bisa membaca, tapi soal bagaimana membuat Raja percaya bahwa kambing itu memang istimewa.
Ujian Sang Kambing
Keesokan harinya, Abu Nawas datang ke istana membawa seekor kambing putih gemuk yang tampak biasa saja. Di lehernya tergantung kitab suci kecil yang diikat rapi.
Raja, penasihat, dan seluruh pengawal berkumpul di aula utama. “Baiklah,” kata Raja, “Tunjukkan padaku bagaimana kambing ini membaca.”
Abu Nawas meletakkan kitab di depan kambing. “Silakan, wahai kambing saleh. Bacalah seperti biasa.”
Kambing itu mendekat… lalu dengan tenang mulai mengunyah kitab suci tersebut!
Semua orang terkejut. Raja berdiri dari singgasana. “Abu Nawas! Kau bilang kambing ini bisa membaca, tapi dia malah memakan kitab suci!”
Abu Nawas tetap tenang. Ia menunduk hormat dan berkata, “Tuanku, justru karena dia sudah hafal isinya, maka ia tidak perlu membacanya lagi. Ia hanya lapar.”
Raja terdiam. Para penasihat saling pandang. Beberapa mulai tertawa pelan.
“Lagipula,” lanjut Abu Nawas, “Bukankah banyak manusia yang juga hanya memegang kitab suci, tapi tidak pernah membacanya? Kambing saya setidaknya sudah menghafal sebelum memakannya.”
Raja akhirnya tertawa terbahak-bahak. “Abu Nawas, kau memang tak pernah kehabisan akal. Kambingmu mungkin tidak bisa membaca, tapi kau berhasil membuatku berpikir.”
“Terima kasih, Tuanku,” kata Abu Nawas. “Kadang yang membaca belum tentu paham, dan yang paham belum tentu membaca. Tapi yang lapar… pasti makan.”
Sejak hari itu, kambing Abu Nawas menjadi tamu tetap di taman istana. Dan Raja, meski tak menemukan hewan yang bisa membaca, menemukan satu manusia yang bisa membuatnya tertawa dan berpikir: Abu Nawas.











Tinggalkan Balasan