Abu Nawas dan Kompetisi Gila
CeritaNgeTrend – Pada suatu pagi yang cerah di Baghdad, ketika matahari bersinar seperti sedang ikut lomba terang-terangan, Abu Nawas bangun dari tidurnya dengan ide yang—menurutnya—brilian. Ia berdiri di tengah pasar, memukul gong, dan berteriak, “Wahai warga Baghdad! Hari ini saya mengadakan lomba paling bergengsi: Lomba Masuk Neraka!” Warga pun berkerumun. Ada yang penasaran, ada yang bingung, dan tentu saja ada yang langsung mendaftar karena merasa punya peluang menang. “Hadiah utama: satu peti emas dan satu tiket langsung ke neraka tanpa antre!” kata Abu Nawas, sambil mengangkat gulungan kertas yang katanya berisi ‘surat rekomendasi dari malaikat pencatat amal buruk’.
Syarat lomba pun diumumkan: peserta harus melakukan kejahatan, tapi kejahatannya harus kreatif, tidak biasa, dan tidak menyakiti orang lain secara fisik. Harus bisa membuat orang tertawa dan berpikir, bukan menangis dan trauma. Warga mulai beraksi. Seorang tukang roti menukar isi roti dengan spons, lalu menjualnya sebagai “roti diet surgawi”. Seorang penjual parfum menjual air got yang diberi label “Aroma Neraka: Edisi Terbatas”. Seorang pejabat pura-pura mengaku jujur, lalu minta sumbangan untuk “pembangunan surga pribadi”. Abu Nawas tertawa terpingkal-pingkal. “Bagus! Tapi belum cukup jahat!”
Setelah semua peserta tampil, Abu Nawas berdiri dan berkata, “Sekarang giliran saya.” Ia membuka surat, membacakan pengakuan dosa-dosa yang tidak pernah ia lakukan. Ia mengaku sebagai pencuri, pembohong, penipu, bahkan tukang gosip. Semua warga terkejut. “Lho, Abu Nawas! Bukankah kau orang baik?” tanya seorang ibu-ibu. Abu Nawas tersenyum. “Justru karena saya baik, saya tahu cara paling jahat: mengaku dosa yang tidak saya lakukan, agar orang jahat merasa malu karena kalah kreatif.” Khalifah Harun Al-Rasyid yang diam-diam menonton dari balik tirai pun tertawa. “Hadiah emas untuk Abu Nawas! Tapi tiket ke neraka saya batalkan. Kau terlalu cerdas untuk masuk ke sana.”
Sejak hari itu, warga Baghdad belajar satu hal: kejahatan yang paling berbahaya bukan yang menyakiti tubuh, tapi yang menyakiti akal sehat. Dan Abu Nawas? Ia tetap jadi legenda. Bukan karena dosa-dosanya, tapi karena kemampuannya membuat orang tertawa sambil berpikir. “Di dunia ini,” kata Abu Nawas, “neraka bisa berwujud birokrasi, kemunafikan, atau tetangga yang suka pinjam garam tapi tak pernah mengembalikan.”











Tinggalkan Balasan