CeritaNgeTrend – Pada suatu hari yang cerah di Baghdad, Raja Harun Al-Rasyid bangun dengan perasaan gelisah. Kuda kesayangannya, seekor kuda Arab berwarna putih yang terkenal karena kecepatan dan keanggunannya, hilang dari istal istana. Raja murka. Ia memerintahkan seluruh penjaga untuk mencari pelakunya, namun tak satu pun berhasil menemukan jejak kuda itu.

Karena tak kunjung mendapat hasil, sang Raja memanggil Abu Nawas, penasihat istana yang terkenal karena kecerdikan dan kelucuannya.

“Abu Nawas,” kata Raja, “Jika dalam tiga hari kau tidak menemukan siapa pencuri kudaku, maka kau akan kuhukum penjara!”

Abu Nawas mengangguk tenang. Ia tidak meminta bantuan pasukan, tidak menyisir kota, tidak menginterogasi pelayan. Sebaliknya, ia pergi ke pasar dan membeli seekor kambing tua yang kurus dan lemah. Ia membawa kambing itu ke tengah alun-alun Baghdad, lalu mengumumkan:









“Wahai rakyat Baghdad! Barang siapa merasa bersalah karena mencuri kuda Raja, datanglah ke sini dan peganglah kambing ini. Kambing ini akan mengampuni dosamu!”

Orang-orang tertawa. “Abu Nawas sudah gila,” pikir mereka. Tapi Abu Nawas tetap berdiri tegak, menunggu.

Hari pertama, tak ada yang datang. Hari kedua, beberapa orang datang hanya untuk mengejek. Tapi pada hari ketiga, seorang pria berpakaian mewah datang diam-diam dan menyentuh kambing itu dengan cepat, lalu berusaha pergi.

Abu Nawas langsung berteriak, “Tangkap dia!”

Pengawal istana yang sudah siaga langsung meringkus pria itu. Ternyata ia adalah salah satu pejabat istana yang selama ini dikenal jujur. Raja terkejut.

“Bagaimana kau tahu dia pencurinya?” tanya Raja.

Abu Nawas tersenyum. “Karena hanya pencuri yang percaya kambing ini bisa mengampuni dosa. Orang jujur tidak akan menyentuhnya.”

Raja tertawa terbahak-bahak. Ia kagum pada kecerdikan Abu Nawas yang berhasil memancing rasa bersalah sang pencuri tanpa kekerasan atau ancaman.