Abu Nawas dan Sepotong Roti Terbang
CeritaNgeTrend – Pada suatu pagi yang cerah, Abu Nawas berjalan santai di pasar Baghdad. Di tengah keramaian, ia mencium aroma roti panggang yang sangat harum. Perutnya pun berbunyi kencang.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pedagang roti bernama Qasim sedang sibuk memanggang. Banyak orang membeli, tetapi Abu Nawas hanya berdiri sambil menghirup aroma roti itu dalam-dalam.
Melihat itu, Qasim membentak,
“Hei Abu Nawas! Kalau mau roti, belilah! Jangan cuma mencium baunya!”
Abu Nawas tersenyum. “Bukankah udara milik semua orang, wahai Qasim?”
Namun Qasim tak terima. “Tidak! Kau harus bayar karena sudah menikmati aroma rotiku!”
Orang-orang di pasar tertawa, tapi Qasim serius. Ia memaksa Abu Nawas membayar beberapa keping dinar. Karena tidak ingin membuat keributan, Abu Nawas setuju membawanya ke hadapan Hakim Kota Baghdad.
Dihadapan Hakim
Hakim mendengar keluhan pedagang roti itu.
“Aku menuntut Abu Nawas karena telah mencuri aroma roti daganganku!” tegas Qasim.
Hakim menatap Abu Nawas. “Benarkah begitu?”
Abu Nawas mengangguk pelan. “Benar, Tuan Hakim. Aku memang mencium aromanya. Namun apakah mencium bau bisa disebut mencuri?”
Qasim bersikeras. “Aroma itu dari roti milikku, jadi harus dibayar! Kalau tidak semua orang akan mencuri aroma tanpa membayar!”
Hakim terdiam sejenak. Ia tahu ini keluhan yang konyol, namun ia ingin menyelesaikannya dengan adil.
“Baik,” kata Hakim. “Abu Nawas harus membayar… dengan cara yang pantas.”
Orang-orang berdesakan ingin tahu apa yang akan terjadi.
Trik Abu Nawas
Abu Nawas mengeluarkan dua keping dinar dari kantongnya.
Namun, alih-alih menyerahkan uang itu kepada Qasim, ia menggoyang-goyangkan keping dinar tersebut di depan telinga Qasim.
Kling… kling… kling…
Suara logam itu terdengar jelas.
Setelah beberapa kali menggoyang, Abu Nawas pun berkata,
“Tuan Hakim, pembayaran selesai.”
Qasim terkejut. “Apa maksudmu?! Aku belum menerima apa pun!”
Abu Nawas menjawab tenang,
“Bukankah engkau menuntut harga dari aroma roti? Karena kau menuduhku mencuri sesuatu yang tak bisa disentuh, maka kau juga kubayar dengan sesuatu yang tak bisa kau sentuh: suara uang.”
Orang-orang meledak tertawa.
Hakim tersenyum puas.
“Benar sekali! Engkau menuntut sesuatu yang tak wajar. Maka pembayaran pun harus seimbang. Kasus selesai.”
Qasim hanya bisa menghela napas panjang dan kembali ke pasar dengan malu.











Tinggalkan Balasan